Tembok Zulkarnain

SIAPA SEBENARNYA ZULKARNAIN?

caucasus

Sebenarnya pendapat popular bahawa Zulkarnain adalah Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great) telah dinafikan oleh ramai sarjana Islam kerana setelah dikaji latarbelakang Iskandar Zulkarnain, ternyata bahawa beliau bukanlah seorang yang berperibadi mulia sebagaimana Zulkarnain yang diberitakan di dalam Al-Qur’an. Atas sebab itu sarjana yang kemudian telah mengkaji lagi dan mencari siapakah sebenarnya Zulkarnain itu.

Wahab bin Munabbih berpendapat bahawa Zulkarnain adalah seorang raja Yaman bernama As-Sha’ab Zulkarnain bin Al-Harith Zu Murathid bin Amru Al-Hammal Zu Manah bin Aad Zu Syidad bin Emir bin Al-Milthat bin Saksak bin Wail bin Himyar bin Saba’ bin Yusyiab bin Yi’rab bin Qahtan bin Hud a.s. bin Emir bin Syalikh bin Arfafksyad bin Sam bin Nuh a.s. Menarik juga kisah As-Sha’ab Zulkarnain ini kerana baginda ini dikatakan hidup di zaman Nabi Musa a.s. dan satu lagi perkara menarik ialah bahawa Nabi Khidir a.s. adalah menteri kanan kepada As-Sha’ab dan Khidir a.s. telah mengikuti baginda bersama-sama dalam siri pengembaraan baginda untuk menakluki negeri-negeri lain. Malah Khidir a.s. dikatakan telah menghilangkan diri selepas As-Sha’ab Zulkarnain mangkat.

darialSeorang lagi raja yang dikaitkan dengan Zulkarnain ialah Kaurasyh Al-Ikhmini. Pendapat ini dikemukakan oleh Abul Kalam Azad, bekas Menteri Pendidikan India. Beliau telah menyelidik sejarah Parsi kuno dan menemukan seorang raja yang terbilang sejarahnya. Kaurasyh dikenali oleh orang Greek sebagai Syrus, dan orang-orang Yahudi menggelarnya sebagai Khauras. Selain dari merupakan raja yang agung, Khaurasyh dikatakan bersifat adil, hubungan dengan rakyat jelata adalah baik, dan menunjukkan sifat-sifat kemanusiaan yang mulia.

[Download document file]

Iklan

Peta Siroh Nabi Muhammad SAW

 QABILAH-QABILAH ARAB

 Jazirah Arab terbentang luas, terletak antara benua Asia dan Afrika. Dengan luas kurang lebih 3,1 juta km2, negeri ini bagaikan titik pusat dunia. Lebih dari sepertiga wilayah jazirah ini terdiri dari padang pasir yang tandus. Yang paling luas dan terkenal adalah padang pasir “Ar-Rabi’ul Khaly” yang membentang dari Selatan ke arah utara. Padang pasir inipun dihiasi dengan gunung-gunung batu yang tinggi. Diantara sela-selanya terdapat lembah-lembah yang kadang berair dan kadang keying. Tak ada sungai yang mengalir. Semua gersang. Kerontang!

 

Pada masa itu Jazirah Arab dibagi ke dalam delapan bagian, yaitu: Hijaz, Yaman, Hadhramaut, Muhrah, ‘Uman, Al-Hasa, Najd dan Ahqaf. Masing-masing daerah tersebut memiliki tabiat dan karakter masing-masing.

 

Hijaz terletak ditepian Taut Merah sebelah Tenggara. Di wilayah inilah terdapat kota Makkah yang ada bangunan Masjidil Haram. Di tengah-tengah masjid ini berdirilah Ka’bah. Rumah suci Ka’bah ini disebut juga dengan “Baitullah“.

 

Yaman berada di Selatan Hijaz. Disebut Yaman sebab berada di sebelah kanan Ka’bah (yamin). Di Yaman ini ada kota-kota bersejarah yang dilukiskan oleh Al-Qur’an dan Hadits Nabi seperti Saba’, Shan’aa, Ma’arib, Hudaidah dan Aden. Di Selatan Yaman inilah terdapat Samudra Hindia.

 

Hadhramaut terletak disebelah Timur Yaman dan tepi Samudra Hindia. Muhrah disebelah.Timur dari Hadhramaut. ‘Uman di Utara dan bersambung dengan teluk Persia. Al-Hasa dipantai teluk Persia dan panjangnya sampai ke tepian sungai Euphrat.

 

Najd terletak antara Hijaz dan negeri Yamamah. Tanahnya datar dan luas. Diutara bersambung dengan Syam, di Timur dengan Iraq. Ahqaf terletak diselatan, sebelah barat Daya dari ‘Uman.

 

Qabilah-qabilah Arab ini memiliki beberapa jenis kulit sesuai dengan asal keturunan nenek moyang mereka. Yang berkulit putih berasal dari Persia, berkulit kuning dari Cina dan yang berkulit hitam berasal dari Afrika. Ketiga macam jenis kulit itu semuanya berasal dari keturunan Nabi Nub yang bernama: Sam, Yafits dan Ham. Dan karena bercampur baur, maka semakin beraneka ragamlah jenis kulit manusia di Jazirah ini.

Secara lebih detail bangsa Arab tersebut dibagi dalam tiga bagian berdasarkan asal usulnya.

 

1. Bangsa Arab Al-‘Arabaa’, mereka ini yang Ash dari keurunan Iram bin Sam bin Nuh. Puak ini terurai menjadi bangsa-bangsa: ‘Aad, Tsamud, Amim, Amil, Thasam, Jadies, ‘Imlieq, Jurhum Ula dan Wabar, dari keturunan ini pulalah lahirnya Isma’il putra nabi Ibrahim as. Bangsa ‘Aad dan Tsamud ini pernah dimusnahkan oleh Allah, sebagaimana termaktub didalam Al-Qur’an.

 

 

2. Bangsa Arab Al-‘Aaribah keturunan Nabi Hud didaerah Yaman. Mereka ini dikenal dengan bangsa Saba’iyyah (Saba). Ketika tanah Yaman dihanyutkan oleh air bah, kerajaan mereka terpecah menjadi tiga kerajaan.

 

 

3. Bangsa Arab Al-Musta’rabah adalah yang ditetapkan sebagai bagsa Arab, mereka adalah keturunan Nabi Ismail as, yang nantinya silsilah beliau sampai kepada nabi Muhammad SAW.

 

Keturunan Ismail yaitu Adnan berkuasa berabad-abad lamanya di jazirah tersebut. Mereka adalah para penjaga rumah suci Ka’bah yang dihormati oleh seluruh qabilah. Namun karena kurang kekuatan, akhirnya keturunan Adnan tersebut diserang oleh raja Babilon dan mereka dapat menguasai Hijaz. Namun setelah menghadapi berbagai peperangan baik dengan bangsa Khuza’ah dan lain-lainnya, akhirnya keturunan Adnan kembali dapat berkuasa di Jazirah tersebut. Dari turunan Ismail (Adnan) inilah nantinya dikenal dengan sebutan Quraisy yang berasal berarti yang dikumpulkan dari sana-sini.

 

Kemudian bangsa Arab berkembang biak, sampai dimasa kehidupan Rasulullah saw sudah banyak sekali jumlah qabilah qabilah yang terdapat di jazirah tersebut. Diantaranya banu Ghathafan, banu Asad, banu Kalb, banu Syaiban, banu Sulaim, banu Bakr, banu Khuza’ah, Banu Tamiim, banu Aslam, banu Mustholiq dll.

 

Moral bangsa Arab pada masa jahiliyyah sangat rusak dan bobrok. Mereka memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk seperti minum arak, berjudi, pelacuran, mencuri dan merampok, kejam, memakan bangkai, tidak sopan atau suka bertelanjang, perkelahian dsb. Dan banyak lagi kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya yang mereka lakukan seperti berzina dan menceritakan hal terbut kepada orang lain. Walaupun ada kelebihan pada mereka seperti jujur, konsisten, menghormati tamu dan menghormati hak orang-orang yang dijamin keamanannya.

peta_sirah2

 

[Download] Peta Siroh Nabi Muhammad SAW; Sumber: Asaduddin Pres; Editor: Abu Fathan ]

Drakula

Drakula adalah tokoh fiksi ciptaan Bram Stoker dalam novelnya Dracula yang diterbitkan pada tahun 1897. Drakula adalah seorang vampir yang diceritakan berasal dari kota Transylvania yang berada di Rumania. Kelemahan Drakula ialah sinar matahari, benda terbuat dari perak, dan bawang putih. Tokoh ini kemungkinan terinspirasi Raja Vlad III yang memerintah Walakia pada abad ke-15 dengan tangan besi.

Sejarah Drakula ( vlad III )

Selama perang salib, wallachia menjadi rebutan antara kerajaan Hungaraia dan Turki Ottoman, pada masa Vlad II berkuasa di wallachia,Vlad II mempunya tiga orang anak, Mircea, Drakula, dan Randu, Vlad II memihak kerajaan Hungaria.Namun setelah dilengserkan oleh Sigismund ( Raja dari kerajaan Hungaria ) dan kemudian digantikan oleh John Hunyandi, Vlad II memihak kepada kesultanan Turki Ottoman, sebagai jaminan kesetiaannya kepada kesultanan Turki ottoman, Vlad II mengirimkan Drakula dan Randu ke Turki.

Riwayat Drakula

Vlad Tsepes III ( 1431 – 1475 M ) atau yang lebih populer dengan nama Drakula dilahirkan di Transylvania, Rumania. Ia merupakan anak Ke 2 dari Vlad II dan Cneajna, seorang putri dari Moldavia

Masa kecil Drakula memang tidak berlangsung lama, diusianya yang ke 11 ia harus menjadi jaminan kesetian ayahnya kepada kesultanan Turki ottoman, ia dan adiknya Randu harus dikirim ke Turki.

Awal Kekuasaan Drakula

Setelah perang Verna, terjadi konflik antara Vlad II dan John Hunyadi, yang berujung pada kematian Vlad II dan Mircea, kakak Drakula. Melihat perubahan politik di Wallachia tersebut, maka sultan Turki ottoman Mehmed II mengirimkan Drakula pulang ke wallachia untuk merebut tahta.

Drakula kembali ke Wallacia dengan di kawal 8000 prajurit Turki ottoman. sesampainya di Tirgoviste ( ibu kota wallachia ) terjadi pertempuran antara pasukan Vlasdisav dengan pasukan Drakula, yang akhirnya di menangkan oleh pasukan Drakula dan menempatkan Drakula sebagai penguasa Wallachia.

Awal Kekejaman Drakula

Setelah berhasil menduduki tahta, Drakula membantai prajurit Turki ottoman yang tersisa dengan cara di sula, hal tersebut menjadi salah satu penyebab permusuhan antara Drakula dan Sultan Mehmed II.

Sebagai panglima salib di Wallachia, Drakula telah membantai kurang lebih 23.000 umat islam baik tentara maupun rakyat, dengan peperangan maupun dengan metode sula ( impaler ), setelah tindakan tersebut Drakula mengirimkan surat kepada raja Hungaria saat itu ( Matthias Corvinus ) untuk meminta dukungan dari kerajaan Hungaria untuk melawan Turki Ottoman.

Serangan Tengah Malam (The Night Attack)

Tindakan Drakula yang membantai 23.000 tentara Turki Ottoman, membuat sultan Mehmed II menyatakan perang kepada Drakula. Pada tanggal 17 Mei 1462 M Sultan Mehmed II ( sang penakluk konstatinopel ) mengirimkan 60.000 tentara ditambah 30.000 tentara non reguler. Sedangkan tentara Dracula mencapai 30.000 prajurit, melihat jumlah pasukan yang tidak berimbang, Drakula melakukan strategi perang gerilya

Pada serangan tengah malam pasukan Drakula yang berkekuatan 10.000 orang berhasil mendesak pasukan Turki ottoman, tetapi dapat dipukul mundur pada saat fajar tiba, atas kekalahan tersebut pasukan Drakula mundur ke benteng Poenari, Drakula melarikan diri dari kepungan pasukan Turki ottoman yang di pimpin oleh Randu ( adik kandung Drakula )ke Hungaria, dengan melarikandirinya Drakula, Randu dengan mudah merebut benteng Poenari dan merebut tahta Wallachia.

Kematian Drakula

Pada Desember 1476 Terjadi pertempuran antara pasukan salib dengan dengan pasukan muslim ( Turki ottoman )dimana pertempuran tersebut terjadi di daerah Snagov, dalam pertempuran tersebut pasukan Drakula dapat dikalahkan, dan Drakula ( Vlad III ) tewas dalam pertempuran tersebut, kepalanya di penggal dan di bawa ke Turki sebagai bukti kematiannya.

(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Drakula)

Kisah yang berhubungan: Sultan Mehmed II

Sultan Mehmed II

Sultan Mehmed II (bahasa Turki Ottoman: محمد ثانى Meḥmed-i sānī, bahasa Turki: II. Mehmet, juga dikenal sebagai el-Fatih (الفاتح), “sang Penakluk”, dalam bahasa Turki Usmani, atau, Fatih Sultan Mehmet dalam bahasa Turki; 30 Maret 1432 – 3 Mei 1481) merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur. Mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika & menguasai 6 bahasa saat berumur 21 tahun. Seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawaduk setelah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di Ain Jalut melawan tentara Mongol). Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik & strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tenteranya. Ia merupakan anak didik Syekh Syamsuddin yang masih merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq. Ia jugalah yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhannya). Kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Untuk memperingati jasanya, Masjid Al Fatih telah dibangun di sebelah makamnya. Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajud sejak baligh. Hanya Sultan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan solat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya.

Usaha Sulthan dalam Menakhlukkan Konstantinopel

Istanbul atau yang dulu dikenal sebagai Konstantinopel, adalah salah satu bandar termasyhur dunia. Bandar ini tercatat dalam tinta emas sejarah Islam khususnya pada masa Kesultanan Utsmaniyah, ketika meluaskan wilayah sekaligus melebarkan pengaruh Islam di banyak negara. Bandar ini didirikan tahun 330 M oleh Maharaja Bizantium yakni Costantine I. Kedudukannya yang strategis, membuatnya punya tempat istimewa ketika umat Islam memulai pertumbuhan di masa Kekaisaran Bizantium. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah beberapa kali memberikan kabar gembira tentang penguasaan kota ini ke tangan umat Islam seperti dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada perang Khandaq.

Para khalifah dan pemimpin Islam pun selalu berusaha menaklukkan Kostantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H di zaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu ‘Anhu. Akan tetapi, usaha itu gagal. Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayyah. Di zaman pemerintahan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk di zaman Khalifah Harun al-Rasyid tahun 190 H. Setelah kejatuhan Baghdad tahun 656 H, usaha menawan Kostantinopel diteruskan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia) terutama Kerajaan Seljuk. Pemimpinnya, Alp Arselan (455-465 H/1063-1072 M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos (Romanus IV/Armanus), tahun 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk.

Awal kurun ke-8 hijriyah, Daulah Usmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi nafas baru kepada usaha umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat di zaman Sulthan Yildirim Bayazid saat dia mengepung bandar itu tahun 796 H/1393 M. Peluang yang ada telah digunakan oleh Sultan Bayazid untuk memaksa Kaisar Bizantium menyerahkan Konstantinople secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi, usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk.

Selepas Daulah Utsmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju dan terarah, semangat jihad hidup kembali dengan nafas baru. Hasrat dan kesungguhan itu telah mendorong Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M) untuk meneruskan usaha menaklukkan Kostantinopel. Beberapa usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi dalam masa yang sama terjadi pengkhianatan di pihak umat Islam. Kaisar Bizantium menabur benih fitnah dan mengucar-kacirkan barisan tentara Islam. Usaha Sultan Murad II tidak berhasil sampai pada zaman anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II), sultan ke-7 Daulah Utsmaniyyah.

Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan Kostantinopel. Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika beliau naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, dia telah mulai berpikir dan menyusun strategi untuk menawan kota bandar tadi. Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya. Sejak kecil, dia dididik secara intensif oleh para ‘ulama terulung di zamannya. Di zaman ayahnya, yaitu Sultan Murad II, Asy-Syeikh Muhammad bin Isma’il Al-Kurani telah menjadi murabbi Amir Muhammad (Al-Fatih). Sultan Murad II telah menghantar beberapa orang ‘ulama untuk mengajar anaknya sebelum itu, tetapi tidak diterima oleh Amir Muhammad. Lalu, dia menghantar Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan kuasa kepadanya untuk memukul Amir Muhammad jika membantah perintah gurunya.

Waktu bertemu Amir Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh Sulthan, Amir Muhammad tertawa. Dia lalu dipukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani. Peristiwa ini amat berkesan pada diri Amir Muhammad lantas setelah itu dia terus menghafal Al-Qur’an dalam waktu yang singkat. Di samping itu, Asy-Syeikh Ak Samsettin (Syamsuddin) merupakan murabbi Sultan Muhammad Al-Fatih yang hakiki. Dia mengajar Amir Muhammad ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur’an, hadits, fiqih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya.

Syeikh Ak Samsettin lantas meyakinkan Amir Muhammad bahwa dia adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam hadits pembukaan Kostantinopel. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad segera menemui Syeikh Semsettin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel. Peperangan itu memakan waktu selama 54 hari. Persiapan pun dilakukan. Sulthan berhasil menghimpun sebanyak 250 ribu tentara. Para mujahid lantas diberikan latihan intensif dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan Islam.

Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Di hadapan tentaranya, Sulthan Al-Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah Subhana Wa Ta’ala. Dia juga membacakan ayat-ayat Al-Qur’an mengenainya serta hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang pembukaan kota Konstantinopel. Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.

Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Bizantium di sana. Takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” terus membahana di angkasa Konstantinopel seakan-akan meruntuhkan langit kota itu. Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah Subhana Wa Ta’ala. Mereka memperbanyak shalat, doa, dan dzikir. Hingga tepat jam 1 pagi hari Selasa 20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M, serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Tentara Utsmaniyyah akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fatih, akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita mereka.

(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Mehmed_II)

Kisah yang berhubungan: Drakula