Larangan Bersikap Ghuluw

📝 LARANGAN BERSIKAP GHULUW

▪ Pernah dengar istilah “ghuluw”❓

(الْغُلُوُّ) Al-Ghuluw berasal dari kata
غَلاَ – يَغْلُو – غُلُوًّا
yang bermakna melampaui batas dalam ukuran.

Sikap ghuluw (melampaui batas atau berlebih-berlebihan) dalam agama adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh syariat. Sikap ini tidak akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya; juga tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam segala urusan. Terlebih lagi dalam urusan agama.
Banyak sekali dalil-dalil al-Qur’ân dan Sunnah yang memperingatkan dan mengharamkan ghuluw atau sikap melampaui batas tersebut.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [al-Mâ`idah/5:77]

Dalam hadits yang diriwayatkan dari `Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Pada pagi hari di Jumratul Aqabah ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas kendaraan, beliau berkata kepadaku: “Ambillah beberapa buah batu untukku!” Maka aku pun mengambil tujuh buah batu untuk beliau yang akan digunakan melontar jumrah. Kemudian beliau berkata:

أَمْثَالَ هَؤُلاَءِ فَارْمُوْا ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Lemparlah dengan batu seperti ini!” kemudian beliau melanjutkan:
“Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama.”

Ghuluw dalam agama itu sendiri adalah sikap dan perbuatan berlebih-lebihan melampaui apa yang dikehendaki oleh syariat, baik berupa keyakinan maupun perbuatan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan ummatnya dari sikap ghuluw dan mengatakan dengan jelas bahwa itu adalah sebab kehancuran dan kebinasaan, karena menyelesihi syari’at dan menjadi penyebab kebinasaan ummat-ummat terdahulu. Bahkan ghuluw menyebabkan manusia bisa menjadi kafir dan meninggalkan agama mereka.

Di antara bentuk ghuluw, yaitu sikap ghuluw terhadap orang-orang shalih dengan mengagungkan mereka, membangun kubur-kubur mereka, membuat patung-patung yang menyerupai mereka, bahkan sampai akhirnya mereka disembah.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Ini adalah penyakit pertama yang paling besar yang terjadi pada kaum Nûh Alaihissallam , sebagaimana Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang mereka dalam al-Qur’ân, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا ﴿٢١﴾ وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا ﴿٢٢﴾ وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا ﴿٢٣﴾ وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا

Nuh berkata, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaguts, Ya‘uq dan Nasr. Dan sungguh, mereka telah menyesatkan orang banyak; dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” [Nûh/71:21-24]”

Ibnu ‘Abbâs Radhiyalllahu anhumaberkata tentang ayat ini, “Berhala-berhala yang ada pada kaum Nabi Nûh (kemudian) diwarisi oleh orang-orang Arab setelah itu. Wadd menjadi berhala milik Kalb di Daumah al-Jandal. Suwa’ milik Hudzail, Yaghûts milik Murad kemudian Bani Ghuthaif di al-Juruf di negeri Saba’. Ya’uq milik Hamdan, Nasr milik Himyar alu Dzil Kala’, mereka (sebenarnya) adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nûh. Tatkala mereka meninggal, setan membisikkan kepada kaum mereka, agar mereka mendirikan patung-patung pada tempat yang pernah diadakan pertemuan di sana oleh mereka, dan menamai patung-patung itu dengan nama-nama mereka. Orang-orang itu pun melaksanakan bisikan setan tersebut, tetapi patung-patung mereka ketika itu belum disembah. Hingga orang-orang yang mendirikan patung itu meninggal dan ilmu agama dilupakan orang, barulah patung-patung tadi disembah.”

Hadits ini menunjukkan peringatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sikap ghuluw dan segala sarana yang membawa kepada kesyirikan, walaupun itu semua ditujukan untuk kebaikan. Karena sesungguhnya setan memasukkan mereka ke dalam perbuatan syirik dengan sikap ghuluw terhadap orang-orang shalih, berlebihan dalam mencintai mereka, sebagaimana yang terjadi juga dalam ummat ini. Setan menampakkan kepada mereka bid’ah-bid’ah dan ghuluw dalam mengagungkan dan mencintai orang-orang shalih, agar mereka terjatuh pada perkara yang lebih besar dari itu, yaitu beribadah, berdoa, meminta tolong di saat sulit kepada orang-orang shalih tersebut dan menyekutukan Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwa Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma menceritakan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang gereja dengan rupaka-rupaka yang ada di dalamnya yang dilihatnya di negeri Habsyah (Ethiopia). Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ فِيْهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ ، أَوِ الْعَبْدُ الصَّالِحُ ، بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكِ شِرَارُ الْـخَلْقِ عِنْدَ اللهِ

“Mereka itu, apabila ada orang yang shalih atau seorang hamba yang shalih meninggal, mereka bangun di atas kuburnya sebuah tempat ibadah dan membuat di dalam tempat itu rupaka-rupaka. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk di hadapan Allâh .”

Sumber:
https://almanhaj.or.id/3435-fenomena-ghuluw-melampaui-batas-dalam-agama.html
https://almanhaj.or.id/4290-larangan-bersikap-ghuluw.html

Tiga pertanyaan di alam kubur

Diriwayat oleh Bukhari & Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan & dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar & Nakir) yang akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan.

  • Pertanyaan pertama, “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
  • Kedua, “Wa maa diinuka?” … & apakah agamamu?
  • Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … & siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?

Tiga pertanyaan inilah yang disebut dgn fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting & mendesak utk diketahui. Wajib bagi setiap manusia utk mengetahui, meyakini & mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin.

Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat & siksaan di alam kubur. Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin & mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat & meninggal dlm keimanan.

Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.

Allah Ta’ala telah berfirman dlm Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dgn ucapan yang teguh itu d kehidupan di dunia & di akhirat, & Allah akan Menyesatkan orang-orang yang dzalim & Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”

Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dgn “ucapan yang teguh” adalah seorang mukmin akan teguh di atas keimanan & terjaga dari syubhat & ia akan terjaga di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dlm keadaan husnul khatimah (dalam keadaan beriman) & bisa menjawab tiga pertanyaan.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia & akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.

Waktu yang Berharga

 

Al-Asr

Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS. 23:114)

“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhan-mu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Qs. Al-Hajj [22]:47) “

Berdasarkan ayat di atas bahwa 1 hari di akhirat = 1,000 tahun di dunia

  • 1,000 tahun (dunia) = 1 hari (akhirat)
  • 1,000 tahun (dunia) = 24 jam (akhirat)
  • 1 tahun (dunia) = 24/1000 = 0,024 jam (akhirat)

Jadi bila umur manusia rata-rata 63 tahun maka menurut waktu akhirat adalah 63 x 0,024 = 1,5 jam (akhirat)

Ternyata hanya satu setengah jam saja yang akan menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak di Surga atau Neraka. (QS. 35:15, 4:170)

Berapa waktu yang kita gunakan untuk beribadah?

Misalkan dalam sehari semalam kita shalat 5 waktu x 10 menit/sholat,
maka dalam 1 hari (24 jam) kita hanya menggunakan waktu untuk sholat selama 5 x 10 = 50 menit.
Dikalikan setahun = 50 menit x 365 = 18,250 menit

Bila kita baru mengenal shalat pada umur 7 tahun, maka waktu shalat menjadi:
(63-7) * 18,250 menit = 1,022,000 menit
1,022,000 menit / 60 = 17,033 jam
17,033 jam / 24 = 710 hari
710 hari / 365 = 2 tahun (waktu dunia)

Jadi selama hidup 63 tahun di dunia, hanya 2 tahun digunakan untuk beribadah (shalat).

Kemanakah waktu selama ini kita habiskan?

.Waktu

Mari kita gunakan waktu yang sangat singkat ini untuk beribadah dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk bekal kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Semoga Allah subhanahu wata’ala membimbing kita menuju Ridho-Nya, Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin.

Wanita yang tidak menutupi auratnya tidak akan mencium bau surga

Image  Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).

Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14).

Orang yang tidak menutupi auratnya artinya tidak mengenakan jilbab diancam dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128).

Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,  17: 190-191).

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa wajibnya wanita mengenakan jilbab dan ancaman bagi yang membuka-buka auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa berpakaian tetapi telanjang alias tidak mengenakan jilbab termasuk dosa besar. Karena dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan mencium bau surga. Na’udzu billahi min dzalik.

Do’a agar terhindar dari syirik

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu agar tidak menyekutukan kepadaMu sedang aku mengetahuinya dan minta ampun terhadap apa yg tidak aku ketahui.”…

(HR. Ahmad dan imam yg lain 4/403 lihat Shahihul Jami’ 3/233 dan Shahihut Targhrib wat Tarhib oleh Al-Albani 1/19. sumber : Kitab Hisnul Muslim – Kumpulan Doa dan Dzikir Dari Al Quran dan As Sunnah, Said bin Ali Al Qathani dalam ebook DzikirWirid.chm oleh akhukum fillah La Adri At Tilmidz)

Berhati-hatilah dengan syirik besar, karena akan membawa si pelaku kekal di neraka jahannam jika ia mati sebelum bertaubat kepada Allah.

Sedangkan riya merupakan syirik kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ, فَسُئِلَ عَنْهُ فَقَالَ: الرِّيَاءُ.

“Sesuatu yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah syirik kecil.” Ketika ditanya tentang (syirik kecil) itu, beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrany dan Al-Baihaqy)

Di antara kejelekan yang Rasulullah peringatkan adalah penampilan yang menampakkan ibadah kepada Allah dengan maksud untuk mendapatkan pujian dari manusia karena hal itu termasuk ke dalam syirik dalam ibadah -yang meskipun syirik kecil, bahayanya sangat besar- sebab hal itu bisa membatalkan amalan yang disertainya juga tatkala jiwa memiliki tabiat senang akan kepemimpinan dan mendapatkan kedudukan di hati-hati manusia, kecuali orang-orang yang Allah selamatkan. Oleh karena itu, jadilah riya sebagai perkara yang sangat dikhawatirkan terjadi pada orang-orang shalih -karena kuatnya dorongan ke arah hal tersebut.

Cincin Perak

Hadist Nabi Saw:

“Ambillah cincin yang dari perak dan jangan cukupkan beratnya satu mitsqal.”

Diriwayatkan oleh Abu Daud, Turmidzi, Nasai dan Ibnu Hibban dari Buraidah. Menurut Turmidzi hadist ini gharib. Ibnu Hibban dalam ‘Ats Tsiqaat’ menilai bahwa derajat hadist ini paling sedikit hasan.

Sababul Wurud:

Dijelaskan dalam Sunan Abu Daud dari Buraidah dari ayahnya, bahwa seorang laki-laki telah datang kepada Nabi Saw. Ia memakai cincin dari jenis logam berwarna kuning. Rasulullah bersabda: “Aku mencium bau berhala dari (tanganmu)” maka iapun melemparkan cincin tersebut. Kemudian ia datang kembali, memakai cincin dari besi. Kata Rasulullah: “Aku melihat apa yang ada di tanganmu, perhiasan ahli neraka“. Iapun melemparkannya. “Jadi sebaiknya apa yang boleh kupakai?“. Rasulullah menjawab: “Pakailah cincin dari perak yang jumlahnya tidak sampai semitsqal“.

Keterangan:

1 mitsqal= 1 3/7 dirham. Jika jumlahnya semitsqal hukumnya makrub. Jika lebih, sebagian ulama mengatakan haram. Ada pula yang berpendapat jika tidak merupakan pemborosan, hukumnya boleh.

(Sumber: Asbabul Wurud, Jilid 1, karangan Ibnu Hamzah Al Husaini Al Hanafi Ad Damsyiqi)

Sejarah April Mop

UMAT Islam sangat tak pantas merayakan “April Mop” atau “The April Fool Day”, karena kebiasaan itu merupakan peringatan peristiwa pembantaian umat Islam di Spanyol pada 1 April 1487 Masehi.

Umat Islam banyak yang “latah” dan merayakan April Mop tanpa mengetahui dasar dan asal muasal peristiwa tersebut, kata cendikiawan Muslim, Ir. H. Asmara Dharma, dalam tulisannya yang diterima ANTARA di Medan, Minggu.
Dijelaskannya, perayaan April Mop itu diawali peristiwa penyerangan besar-besaran oleh tentara Salib terhadap negara Spanyol yang ketika itu di bawah kekuasaan kekhalifahan Islam pada Maret 1487 Masehi.

Kota-kota Islam di Spanyol, seperti Zaragoza dan Leon di wilayah Utara, Vigo dan Forto di wilayah Timur, Valencia di wilayah Barat, Lisabon dan Cordoba di Selatan serta Madrid di pusat kota dan Granada sebagai kota pelabuhan berhasil dikuasai tentara Salib.

Umat Islam yang tersisa dari peperangan itu dijanjikan kebebasan jika meninggalkan Spanyol dengan kapal yang disiapkan di pelabuhan Granada. Tentara Salib itu menjanjikan keselamatan dan memperbolehkan ummat Islam menaiki kapal jika mereka meninggalkan Spanyol dan persenjataan mereka.

Namun ketika ribuan umat Islam sudah berkumpul di pelabuhan, kapal yang tadinya sandar di pelabuhan langsung dibakar dan kaum Muslimin dibantai dengan kejam sehingga air laut menjadi merah karena darah.

Peristiwa pembantaian dan pengingkaran janji itu terjadi pada 1 April 1487 Masehi dan dikenang sebagai “The April Fool Day”.
Selanjutnya, kata Dharma, peristiwa “The April Fool Day” itu dipopulerkan menjadi April Mop dengan “ritual” boleh mengerjai, menipu dan menjahili orang lain pada tanggal itu, tetapi bernuansa gembira.

“Ritual tersebut disyaratkan dengan tidak bolehnya orang yang ditipu dan dijahili itu marah dan membalas,” katanya.
Salah seorang remaja Muslim, Julia Putri, mengaku tidak mengetahui sejarah April Mop, meski sering melakukannya ketika masih di bangku sekolah.
Namun Julia mengaku terkejut jika perayaan April Mop terkait dengan peristiwa pembantaian umat Islam di Spanyol.

Setelah mengetahui sejarah April Mop itu, umat Islam, khususnya kaum remaja, tidak selayaknya merayakan April Mop karena sama artinya merayakan pembantaian umat Islam. (*)

*Dikutip dari kantor berita Antara, 30 Maret 2008, berjudul “Umat IslamTak Pantas Rayakan April Mop“