Taqlid dan Ittiba’

DEFINISI TAQLID

Taqlid secara bahasa adalah meletakkan “al-qiladatun” (kalung) ke leher. Dipakai juga dalam hal menyerahkan perkara kepada seseorang seakan-. akan perkara tersebut diletakkan di lehernya seperti kalung. [Lisanul Arab 3/367 dan Mudzakkirah Ushul Fiqh hal.3 14]

Adapun taqlid menurut istilah adalah mengikuti perkataan yang tidak ada hujjahnya sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad [Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/993 dan l’lamul Muwaqqi’in 2/178]

Ada juga yang mengatakan bahwa taqlid adalah mengikuti perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya. [Mudzakkirah Ushul Fiqh hal. 3 14]

CELAAN TERHADAP TAQLID

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mencela taqlid dalam Kitab-Nya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah” [AtTaubah :31]

Ketika Adi bin Hatim Radhiyallahu ‘anhu mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam membaca ayat Ini maka dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami dulu tidak menjadikan mereka sebagai rabb rabb.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya, Bukankah jika mereka halalkan kepada kalian apa yang diharamkan atas kalian maka kalian juga menghalalkannya, dan jika mereka haramkan apa yang dihalalkan atas kalian maka kalian juga mengharamkannya?” Adi Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ltulah peribadatan kepada mereka” [Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Jami’ nya 3095 dan Baihaqidalam Sunan Kubra 10/116 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ghayatul Maram hal.20]

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (Rasul itu) berkata: ‘Apakah (kamu akan mengikutinyajuga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya” [Az-Zukhruf : 23-24]

Al-Imam lbnu Abdil Barr rahimahullahu berkata, “Karena mereka taqlid kepada bapak-bapak mereka maka mereka tidak mau mengikuti petunjuk para Rasul” [Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/977]

Alloh menyifati orang-orang yang taqlid dengan firman-Nya.

“Artinya : Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-arang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun” [Al-Anfal : 22]

“Artinya : Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dan orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali” [Al-Baqarah : 166]

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata, “Para ulama berargumen dengan ayat-ayat mi untuk membatalkan taqlid” [Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/978]

WAJIBNYA ITTIBA’

Ittiba’ adalah menempuh jalan orang yang (wajib) diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan. [I’Iamul Muwaqqi’in 2/171]

Seorang muslim wajib ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan menempuh jalan yang beliau tempuh dan melakukan apa yang beliau lakukan. Begitu banyak ayat Al-Qur’an yang memerintahkan setiap muslim agar selalu ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di antaranya firman Alloh.

“Artinya : Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, makasesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” [Ali lmran : 32]

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” [Al-Hujurat : 1]

“Artinya : Hal orang-arang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah Ia kepoda Allah (AlQur ‘an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” [An-Nisa :59].

“Artinya : Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintal Alloh, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. “Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Ali lmran :31]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya seandainya Musa hidup maka tidak boleh baginya kecuali mengikutiku” [Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq dalamMushannafnya 6/Fl 3, lbnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya 9/47, Ahmad dalam Musnadnya 3/387, dan lbnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Ilmi 2/805, Syaikh Al-Albani berkata dalam Irwa’ 6/34, “Hasan”]

Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata, “Jika Musa Kalimullah tidak boleh ittiba’ kecuali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana dengan yang lainnya? Hadits ini merupakan dalil yang qath‘i atas wajibnya mengesakan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam hal ittiba’, dan ini merupakan konsekuensi syahadat ‘anna Muhammadan rasulullah”, karena itulah Alloh sebutkan dalam ayat di atas (Ali lmran : 31) bahwa ittiba’ kepada Rasulullah bukan kepada yang lainnya adalah dalil kecintaan Alloh kepadanya” [Muqaddimah Bidayatus Sul fi Tafdhili Rasul hal.5-6]

Demikian juga Alloh memerintahkan setiap muslim agar ittiba’ kepada sabilil mukminin yaitu jalan para sahabat Rasulullah dan mengancam dengan hukuman yang berat kepada siapa saja yang menyeleweng darinya:

“Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan Ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan Ia ke dalam jahanam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. [An-Nisa’: 115]

Pengertian lain dari ittiba’ adalah jika engkau mengikuti suatu perkataan seseorang yang nampak bagimu keshahihannya sebagaimana diktakan oleh Al-Imam Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/787.

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah mendebat seorang pun kecuali aku katakan: Ya Alloh jalankan kebenaran pada hati dan lisannya, jika kebenaran bersamaku maka dia ittiba’ kepadaku dan jika kebenaran bersamanya maka aku ittiba’ padanya” [Qawa’idul Ahkam fi Mashalihil Anam oleh Al-’Izz bin Abdis Salam 2/I 36]

TAQLID BUKANLAH ITTIBA’

Al-Imam lbnu Abdil Barr berkata, “Taqlid menurut para ulama bukan ittiba, karena ittiba’ adalah jika engkau mengikuti perkataan seseorang yang nampak bagimu keshahihan perkataannya, dan taqlid adalah jika engkau mengikuti perkataan seseorang dalam keadaan engkau tidak tahu segi dan makna perkataannya” [Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/787]

Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad berkata, “Taqlid maknanya dalam syari‘at adalah merujuk kepada suatu perkataan yang tidak ada argumennya, ini adalah dilarang dalam syari’at, adapun ittiba maka adalah yang kokoh argumennya”.

Beliau juga berkata, “Setiap orang yang engkau ikuti perkataannya tanpa ada dalil yang mewajibkanmu untuk mengikutinya maka engkau telah taqlid kepadanya, dan taqlid dalam agama tidak shahih. Setiap orang yang dalil mewajibkanmu untuk mengikuti perkataannya maka engkau ittiba’ kepadanya. Ittiba’ dalam agama dibolehkan dan taqlid dilarang” [Dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam kmtabnya Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/993]

PARA IMAM MELARANG TAQLID DAN MEWAJIBKAN ITTIBA’

Diantara hal lain yang menunjukkan perbedaan yang mendasar antara taqlid dan ittiba’ adalah larangan para imam kepada para pengikutnya dan taqlid dan perintah mereka kepada para pengikutnya agar selalu ittiba’:

Al-Imam Abu Hanifah berkata, “Tidak halal atas seorangpun mengambil perkataan kami selama dia tidak tahu dari mana kami mengambilnya” Dalam riwayat lain beliau berkata, “Orang yang tidak tahu dalilku, haram atasnya berfatwa dengan perkataanku” [Dinukil oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya atas Bahru Raiq 6/293 dan Sya’ rany dalam Al-Mizan 1/55]

Al-Imam Malik berkata : “Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa benar dan keliru. Lihatlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesual dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ 2/32]

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Jika kalian menjumpai sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , ittiba’lah kepadanya, janganlah kalian menoleh kepada perkataan siapapun” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ 9/107 dengan sanad yang shahih]

Beliau juga berkata, “Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shahih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi , lebih utama untuk diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku”. [Diriwayatkan olehAbu Hatim dalamAdab Syafi’i hal.93 dengan sanad yang shahih]

Al-Imam Ahmad berkata, “Janganlah.engkau taqlid dalam agamamu kepada seorangpun dari mereka, apa yang datang dari Nabi dan para sahabatnya ambillah” Beliau juga berkata, “Ittiba’ adalah jika seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya” [Masa’iI Al-Imam Ahmad oleh Abu Dawud hal.276- 277]

ITTIBA ADALAH JALAN AHLI SUNNAH DAN TAQLID ADALAH JALAN AHLI BID’AH

Al-Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafy berkata, “Umat ini telah sepakat bahwa tidak wajib taat kepada seorangpun dalam segala sesuatu kecuali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam …makà barangsiapa yang ta’ashub (fanatik) kepada salah seorang imam dan mengesampingkan yang lainnya seperti orang yang ta’ashub kepada seorang sahabat dan mengesampingkan yang lainnya, seperti orang-orang Rafidhah yang ta’ashub kepada Ali dan mengesampingkan tiga khalifah yang lainnya. ini jalannya ahlul ahwa” [Al-Ittiba’ cet. kedua hal. 80]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Barangsiapa yang ta’ ashub kepada seseorang, dia kedudukannya seperti orang-orang Rafidhah yang ta’ashub kepada salah seorang sahabat, dan seperti orang-orang Khawarij. ini adalah jalan ahli bid’ ah dan ahwa’ yang mereka keluar dan syari’at dengan kesepakatan umat dan menurut Kitab dan Sunnah … yang wajib kepada semua makhluk adalah ittiba’ kepada seorang yang ma’shum (yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam) yang tidak mengucap dan hawa nafsunya, yang dia ucapkan adalah wahyu yang diturunkan kepadanya” [Mukhtashar Fatawa Mishniyyah hal.46-47]

BANTAHAN PARA ULAMA KEPADA PEMBELA TAQLID

Al-Imam Al-Muzani berkata, “Dikatakan kepada orang yang berhukum dengan taqlid, Apakah kamu punya hujjah pada apa yang kamu hukumi?’ Jika dia mengatakan,‘Ya’, secara otomatis dia membatalkan taqlidnya, karena hujjah yang mewajibkan dia menghukumi itu bukan taqlidnya”.

Jika dia mengatakan, “Aku menghukumi tanpa memakai hujjah.” Dikatakan kepadanya, “Kalau begitu mengapa engkau tumpahkan darah, engkau halalkan kemaluan, dan engkau musnahkan harta padahal Alloh mengharamkan semua itu kecuali dengan hujjah, Alloh berfirman:

“Artinya : Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini”. [Yunus : 68]

Kalau dia mengatakan, “Aku tahu kalau aku menepati kebenaran walaupun aku tidak mengetahui hujjah, karena aku telah taqlid kepada seorang ulama besar yang dia tidak berkata kecuali dengan hujjah yang tersembunyi dariku” Dikatakan kepadanya, “Jika dibolehkan taqlid kepada gurumu karena dia tidak berkata kecuali dengan hujjah yang tersembunyi darimu, maka taqlid kepada guru dan gurumu lebih utama karena dia tidak berkata kecuali dengan hujjah yang tersembunyl dari gurumu sebagaimana gurumu tidak berkata kecuali dengan hujjah yang tersembunyi darimu.” Kalau dia mengatakan, “Ya”, maka dia harus meninggalkan taqlid kepada guru dari.gurunya dan yang di atasnya hingga berhenti kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau dia enggan melakukan itu berarti dia telah membatalkan ucapannya dan dikatakan kepadanya, “Bagaimana dibolehkan taqlid kepada orang yang lebih kecil dan lebih sedikit ilmunya dan tidak boleh taqlid kepada orang yang lebih besar dan lebih banyak ilmunya? ini jelas menupakan kontradiksi.”

Kalau dia mengatakan, “Karena guruku -meskipun dia lebih kecil- dia telah menggabungkan ilmu orang-orang yang di atasnya kepada ilmunya, karena itu dia lebih paham apa yang dia ambil dan lebih tahu apa yang dia tinggalkan” Dikatakan kepadanya, “Demikian juga orang yang belajar dari gurumu maka dia sungguh telah menggabungkan ilmu gurumu dan ilmu orang-orang yang di atasnya kepada ilmunya, maka engkau harus taqlid kepada orang ini dan meninggalkan taqlid kepada gurumu. Demikian juga engkau lebih berhak untuk taqlid kepada dirimu sendiri daripada taqlid kepada gurumu! Jika dia tetap pada perkataannya ini berarti dia menjadikan orang yang lebih kecil dan orang yang berbicara dari para ulama yunior lebih pantas ditaqlidi daripada para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Demikian juga menurut dia seorang sahabat harus taq lid kepada seorang tabi’in, dalam keadaan seorang tabi’ in di bawäh sahabat menurut analogi perkataannya, maka yang lebih tinggi selamanya lebih rendah, maka cukuplah ini merupakan kejelekan dan kerusakan” [Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdady dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 2/69-70 dan dinukil oleh lbnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/992-993]

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata, “Dikatakan kepada orang yang taqlid: Mengapa engkau taqlid dan menyelisihi salaf dalam masalah ini, karena salaf tidak melakukan taqlid?” Kalau dia mengatakan, “Aku taqlid karena aku tidak paham tafsir Kitabullah dan aku belum menguasai hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sedangkan yang aku taqlidi telah mengetahui semuanya itu maka berarti aku taqlid kepada orang yang lebih berilmu daripadaku”

Dikatakan kepadanya, “Adapun para ulama, jika mereka sepakat pada sesuatu dan tafsir Kitabullah atau periwayatan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau sepakat pada sesuatu maka itu adalah al-haq yang tidak ada satu pun keraguan di dalamnya. Akan tetapi mereka telah berselisih dalam hal yang kamu taqlidi, lalu apa argumenmu di dalam taqild kepada sebagian mereka tidak kepadã yang lainnya, padahal mereka semua berilmu. Bisa jadi orang yang tidak kamu pakai perkataanya lebih berilmu daripada orang yang engkau taqlidi?”

Jika dia mengatakan, “Aku taqlid kepadanya karena aku tahu dia di atas kebenaran.” Dikatakan kepadanya, “Apakah kamu tahu hal itu dengan dalil dari Al-Kitab, Sunnah, dan ijma’?”Jika dia mengatakan, “Ya”, maka dia telah membatalkan taqlidnya dan dituntut untuk mendatangkan dalil dan perkataannya” [Jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/994]

HUKUM TAQLID

Taqlid terbagi menjadi tiga macam sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam lbnul Qayyim dalam kitabnya i’lamul Muwaqqi’in 2/187: (1) Taqlid yang diharamkan, (2) Taqlid yang diwajibkan, dan (3) Taqlid yang dibolehkan.

Macam yang pertama yaitu taqlid yang diharamkan terbagi menjadi tiga jenis:

[a]. Taqlid kepada perkataan nenek moyang sehingga berpaling dari apa yang diturunkan Alloh.
[b]. Taqlid kepada orang yang tidak diketahui bahwa dia pantas diambil perkataannya.
[c]. Taqlid kepada perkataan seseorang setelah tegak argumen dan dalil yang menyelisihi perkataannya.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala‘telah mencela tiga macam taqlid ini di dalam ayat-ayat yang banyak sekali dalam Kitab-Nya sebagaimana telah kita sebutkan pada uraian di atas.
Macam yang kedua yaitu taqlid yang diwajibkan adalah yang dikatakan oleh Al-Imam lbnul Qayyim, “SesungguhnyaAlloh telah memerintahkan agar bertanya kepada Ahlu Dzikr, dan Adz-Dzikr adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits yang Alloh perintahkan agar para istri Nabi-Nya selalu mengingatnya sebagaimana dalam finman-Nya :

“Artinya : Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dan ayat-ayat Alloh dan hikmah (Sunnah Nabimu)”[Al-Ahzab:34]

lnilah Adz-Dzikr yang Alloh penintahkan agar kita selalu ittiba’ kepadanya, dan Alloh perintahkan orang yang tidak memiliki ilmu agar bertanya kepada ahlinya. Inilah yang wajib atas setiap orang agar bertanya kepada ahli ilmu tentang Adz-Dzikr yang Alloh turunkan kepada Rasul-Nya agar ahli ilmu ini memberitahukan kepadanya. Kalau dia sudah diberitahu tentang Adz-Dzikr ini maka tidak boleh baginya kecuali ittiba’ kepadanya” [l’lamul Muwaqqi’in 2/241]

Macam yang ketiga yaitu taqlid yang dibolehkan adalah yang dikatakan oleh Al-Imam lbnul Qayyim, “Adapun taqlidnya seorang yang sudah mengerahkan usahanya untuk ittiba’ kepada apa yang diturunkan Alloh. Hanya saja sebagian darinya tensembunyi bagi orang tersebut sehingg dia taqlid kepada orang yang lebih berilmu darinya, maka yang seperti ini adalah terpuji dan tidak tencela, dia mendapat pahala dan tidak berdosa….” [I’lamul Muwaqqi’ in 2/169]

Syaikhul Islam lbnu Taimiyah berkata, “Adapun orang yang mampu ijtihad apakah dibolehkan baginya taqlid? ini adalah hal yang diperselisihkan, dan yang shahih adalah dibolehkan ketika dia dalam keadaan tidak mampu berijtihad entah karena dalil-dalil (dan pendapat yang berbeda) sama-sama kuat atau karena sempitnya waktu untuk berijtihad atau karena tidak nampak dalil baginya” [Majmu’ Fatawa 20/203-204]

MENGIKUTI MANHAJ PARA ULAMA BUKAN BERARTI TAKLID KEPADA MEREKA

Al-Imam lbnul Qayyim berkata, “Jika ada yang mengatakan: Kalian semua mengakui bahwa para imam yang ditaqlidi dalam agama mereka berada di atas petunjuk, karena itu maka orang-orang yang taqlid kepada mereka pasti di atas petunjuk juga, karena mereka mengikuti langkah para imam tersebut.

Dikatakan kepadanya, “Mengikuti langkah para imam ini secara otomatis membatalkan sikap taqlid kepada mereka, karena jalan para imam ini adalah ittiba’ kepada hujjah dan melarang umat dan taqlid kepada mereka sebagaimana akan kami sebutkan hal ini dan mereka lnsya Alloh . Maka barangsiapa yang meninggalkan hujjah dan melanggar larangan para imam ini (dan sikap taqlid) yang juga dilarang oleh Alloh dan Rasul-Nya, maka jelas orang ini tidak berada di atas jalan para imam ini, bahkan termasuk orang-orang yang menyelisihi mereka.

Yang menempuh jalan para imam ini adalah orang yang mengikuti hujjah, tunduk kepada dalil, dan tidak menjadikan seorang pun yang dijadikan perkataannya sebagal timbangan terhadap Kitab dan Sunnah kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari sini nampaklah kebatilan pemahaman orang yang menjadikan taqlid sebagai ittiba’, mengaburkannya dan mencampuradukkan antara keduanya, bahkan taqlid menyelisihi ittiba’. Alloh dan Rasul-Nya telah memilahkan antara keduanya demikian juga para ulama.

Karena sesungguhnya ittiba’ adalah menempuh jalan orang yang diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan”. [I’lamul Muwaqqi’in 2/170-l71]

[Pembabasan ini banyak mengambil faedah dan risalah Syaikhuna Al-Fadhil Muhammad bin Hadi Al-Madkhaly yang berjudul Al Iqna’ bi Maja’a ‘an A’immati Da ‘wah minal Aqwal fil Ittiba’]

KESIMPULAN

Taqlid menurut istilah adalah mengikuti perkataan yang tidak ada hujjahnya atau mengikuti perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya.

Taqlid terbagi menjadi tiga macam.
[1]. Taqlid yang diharamkan, yaitu taqlid kepada perkataan nenek moyang sehingga berpaling dan apa yang diturunkan oleh Alloh, taqlid kepada orang yang tidak diketahui bahwa dia pantas diambil perkataannya, dan taqlid kepada perkataan seseorang setelah tegak argumen dan dalil yang menyelisihi perkataannya. lnilah taqlid yang dicela Alloh dalam Kitab-Nya.

[2].Taqlid yang diwajibkan, yaitu orang yang tidak memiliki ilmu agar bertanya kepada ahlinya tentang Adz-Dzikr yaitu apa yang Alloh turunkan kepada Rasul-Nya. Kalau dia sudah diberitahu tentang Adz-Dzikr ini maka tidak boleh baginya kecuali ittiba’ kepadanya.

[3].Taqlid yang dibolehkan, yaitu taqlidnya seorang yang sudah mengerahkan usahanya untuk ittiba’ kepada apa yang diturunkan oleh Alloh dalam suatu permasalahan. Hanya saja sebagian dari hujjahnya tersembunyi bagi orang tersebut sehingga dia taqlid kepada orang yang lebih berilmu darinya dalam permasalahan tersebut.

Ittiba’ adalah menempuh jalan orang yang (wajib) diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan atau jika engkau mengikuti suatu perkataan seseorang yang nampak bagimu keshahihannya.

Taqlid bukanlah ittiba’, karena ittiba’ adalah jika engkau mengikuti perkataan seseorang yang nampak bagimu keshahihan perkataannya, dan taqlid adalah jika engkau mengikuti perkataan seseorang dalam keadaan engkau tidak tahu segi dari makna penkataannya.

Para imam melarang para pengikutnya dan taqlid dan memerintahkan mereka agar selalu ittiba’.

Ittiba’ adalah jalan Ahlu Sunnah dan taqlid adalah jalan ahli bid’ah.

Mengikuti manhaj para ulama bukanlah taqlid kepada mereka, karena manhaj para ulama ini adalah ittiba’ kepada hujjah dan melarang umat dan taqlid kepada mereka, maka orang yang menempuh manhaj mereka juga ittiba’ sebagaimana mereka.

[Disalin dari Majalah Al-Furqon Edisi 2 Tahun V/Ramadhan 1426, Oktober 2005. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim PO BOX 21 (61153)]

Iklan

Definisi Salaf

Apa yang dimaksud dengan salaf?

Salaf berasal dari kata ُسَلَفَ – يَسْلُف , artinya lewat, berlalu, pergi.

Salaf secara bahasa berarti orang yang terdahulu, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya,”Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut). Dan Kami jadikan mereka sebagai SALAF dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (Az Zukhruf: 55-56), yakni kami menjadikan mereka sebagai SALAF -yaitu orang yang terdahulu- agar orang-orang sesudah mereka dapat mengambil pelajaran dari mereka (salaf).

Oleh karena itu, Fairuz Abadi dalam Al Qomus Al Muhith mengatakan, ”Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang dan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu.” (Lihat Al Manhajus Salaf ’inda Syaikh al-Albani, ’Amr Abdul  Mun’im Salim  dan Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih, Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsary)

Siapakah Salaf?

Salaf menurut para ulama adalah sahabat, tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in). Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush sholih (orang-orang terdahulu yang sholih). Merekalah tiga generasi utama dan terbaik dari umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,”Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi.”  (HR. Ahmad, Ibnu Abi ’Ashim, Bukhari dan Tirmidzi).

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam telah mempersaksikan ’kebaikan’ tiga generasi awal umat ini yang menunjukkan akan keutamaan dan kemuliaan mereka, semangat mereka dalam melakukan kebaikan, luasnya ilmu mereka tentang syari’at Allah, semangat mereka berpegang teguh pada sunnah beliau shallallahu ’alaihi wa sallam.  (Lihat Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih dan Mu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Muhammad Kholifah At Tamimi)

Wajib Bagi Kita Mengikuti Jalan Salafush Sholih

Setelah kita mengetahui bahwa salaf adalah generasi terbaik umat ini, maka apakah kita wajib mengikuti jalan hidup salaf?

Allah telah meridhai secara mutlak para salaf dari kaum muhajirin dan anshor serta kepada orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100).

Untuk mendapatkan keridhaan yang mutlak ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti salafush sholih.

Menyandarkan Diri pada Salafush Sholih

Setelah kita mengetahui bahwa mengikuti jalan hidup salafush sholih adalah wajib, maka bolehkah kita menyandarkan diri pada salaf sehingga disebut salafi (pengikut salaf)? Tidakkah ini termasuk golongan/kelompok baru dalam Islam?

Jawabannya sebagai berikut:

[1] Istilah salaf bukanlah suatu yang asing di kalangan para ulama,

[2] Keengganan untuk menyandarkan diri pada salaf berarti berlepas diri dari Islam yang benar yang dianut oleh salafush sholih,

[3] Kenapa penyandaran kepada berbagai madzhab/paham dan pribadi tertentu seperti Syafi’i (pengikut Imam Syafi’i) dan Asy’ari (pengikut Abul Hasan Al Asy’ari) tidak dipersoalkan?! Padahal itu adalah penyandaran kepada orang yang tidak luput dari kesalahan dan dosa!!

[4] Salafi adalah penyandaran kepada kema’shuman secara umum (keterbebasan dari kesalahan) sehingga memuliakan seseorang,

[5] Penyandaran kepada salaf bertujuan untuk membedakan dengan kelompok lainnya yang semuanya mengaku bersandar pada Al Qur’an dan As Sunnah, namun tidak mau beragama (bermanhaj) seperti salafush sholih yaitu para sahabat dan pengikutnya. (Lihat Al Manhajus Salafi ’inda Syaikh al-Albani).

Kesimpulannya sebagaimana dikatakan Syaikh Salim Al Hilali,

”Penamaan salafi adalah bentuk penyandaran kepada salaf. Penyandaran seperti ini adalah penyandaran yang terpuji dan cara beragama (bermanhaj) yang tepat. Dan bukan penyandaran yang diada-adakan sebagai madzhab baru.” (Limadza Ikhtartu Al Manhaj As Salaf)

Solusi Perpecahan Umat

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah memberikan solusi mengenai perpecahan umat Islam saat ini untuk berpegang teguh pada sunnah Nabi dan sunnah khulafa’ur rasyidin –yang merupakan salaf umat ini-. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Dan sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian akan melihat  perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian terhadap sunnahku dan sunnah khulafa’rosyidin yang mendapat  petunjuk. Maka berpegang teguh dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham.” (Hasan Shohih, HR. Abu Daud  dan Tirmidzi)

Jalan Salaf adalah Jalan yang Selamat

Orang yang mengikuti jalan hidup Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan sahabatnya (salafush sholih) inilah yang selamat dari neraka. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan; satu golongan masuk surga, 70 golongan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan; satu golongan masuk surga, 71 golongan masuk neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka. Ada sahabat yang bertanya,’Wahai Rasulullah! Siapa mereka yang masuk surga itu?’ Beliau menjawab,’Mereka adalah Al-Jama’ah’.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al Albani). Dalam riwayat lain para sahabat bertanya,’Siapakah mereka wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab,’Orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.’ (HR. Tirmidzi)

Sebagai nasehat terakhir, ’Ingatlah, kata salafi –yaitu pengikut salafush sholih– bukanlah sekedar pengakuan (kleim) semata, tetapi harus dibuktikan dengan beraqidah, berakhlaq, beragama (bermanhaj), dan beribadah sebagaimana yang dilakukan salafush sholih.’

Sumber : https://rumaysho.com/3105-mengenal-salaf-dan-salafi.html

 

Makna As-Sunnah

 

 

1. Menurut Etimologi

 Menurut etimologi (bahasa), As-Sunnah diambil dari kata-kata.

 “Tsanna- yatsinnu- wayasunnu-tsannan fahuwa matsnuunun wa jam’uhu tsunana watsanna al-amru aw bayannahu.”

 wa-atsunnatu = as-tsiiratu wa ath-thabii’atu wa ath-athariiqattu.

wa-atsunnatu minal-allahi = hukmuhu wa amruhu wa nahyuhu

 Artinya :

– Menerangkannya

– Sirah, tabi’at, jalan

– – Sunnah dari Allah = hukum, perintah dan larangannya.

 Menurut bahasa, kata As-Sunnah berarti jalan atau tuntunan, baik yang terpuji maupun yang tercela, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 Artinya : Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata : “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :’Barangsiapa yang memberi contoh atau tuntunan perbuatan yang baik, ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat), tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang memberikan contoh perbuatan yang buruk, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut dan dosa orang-orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat), tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Ahmad 4/357-359, Muslim 3/88-89, 8/61-62, Nasa’i, Darimy, 1/126-127, Ibnu Majah, Thahawy 1/93,97, Thayalisi : 670 dan Baihaqi 4/175-176).

 Kemudian dalam hadits yang lain beliau bersabda.

“Artinya : Dari Abi Sa’id Al-Khudri, ia berkata : “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Pasti kalian akan menempuh jalan (mencontoh) orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka memasuki lubang biawak sekalipun kalian akan memasukinya pula”. (Hadist Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah : 4939)

 Bila disebut sunatullah berarti hukum-hukum Allah, perintah, dan larangan-Nya yang di jelaskan kepada manusia.

 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Artinya : Sebagai sunah Allah yang berlaku atas orangorang yang telah terdahulu sebelum(mu)” (Al-Ahzab : 62)

 Dan diantara lafadz sunnah dalam Al-Qur’an yang berarti jalan cara yang baik atau yang buruk.

“Artinya : Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi shalihih)”. (An-Nisa : 26)

 Yakni Allah akan menunjuki kepada kalian cara-cara orang yang sebelum kalian, yaitu cara atau perjalanan hidup mereka yang terpuji.

 

1 Disalin dari buku Kedudukan As-Sunah Dalam Syari’at Islam oleh Yazid Abdul Qaadir Jawas, hal. 19-28 terbitan Pustaka Al-Kautsar

 Terkadang pula sunnah bermakna balasan dari perbuatan tercela, yaitu sunnah-Nya tentang pembinasaan ummat-ummat yang durhaka kepada rasul-rasul-Nya. diantaranya:

 “Artinya : …. Dan jika mereka kembali lagi (jika mereka kafir dan kembali memerangi Nabi)

sesunguhnya akan berlaku sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu” (Al-Anfaal : 38) dan lihat pula (Al-Hijr : 13).

 Sunnah di sini maksudnya ialah Allah membinasakan mereka ketika menjauhkan diri dari jalan yang lurus, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Mereka itu tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an) dan sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu”. (Al-Hijr : 13).

 

2. Menurut Syari’at

 Menurut terminologi (istilah) ialah : Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk Qauli (ucapan), Fi’il, Taqrir, dan sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai Tasyri’ bagi ummat Islam.

Adapun hadits menurut etimologi artinya sesuatu yang baru. Sedang secara terminologi sama dengan As-Sunnah menurut jumhur ulama.

 Ada ulama yang menerangkan asal secara etimologi, bahwa sunnah itu untuk perbuatan dan taqriri, adapun hadits untuk ucapan. Akan tetapi sudah banyak ulama yang melupakan makna asal bahasa dan memakai istilah yang sudah lazim digunakan, yaitu ; As-Sunnah murodif dengan Hadits.

 As-Sunnah menurut istilah ulama Ushul Fiqh, ialah : “segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain Al-Qur’an, baik itu perbuatan, perkataan dan taqriri yang baik untuk menjadi dalil bagi hukum syar’i”.

 Dalam hal ini ulama ushul fiqh membahasnya dari segala apa-apa yang disyari’atkan kepada manusia sebagai undang-undang kehidupan dan meletakkan kaidah-kaidahnya sebagai perundang-undangan tersebut.

 As-Sunnah menurut istilah Ahli Fiqh (Fuqaha’) ialah : “Segala sesuatu yang sudah tetap dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hukumnya tidak fardhu atau sunah”.(Irsyadul Fuhul Syaukawi hal. 31, Fathul Bari 13/245, Mafhum Ahli Sunnah hal. 37, 39).

 Contoh-contoh dari defenisi As-Sunnah yang dibawakan oleh Ahli hadits ialah:

 1. Hadits Qauli (As-Sunnah dalam bentuk ucapan).

Ialah segala ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada hubungannya dengan tasyri’,

contohnya :

“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dari kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya”. (Hadits Riwayat Tirmidzi).

 2. Hadits Fi’li (As-Sunnah yang berupa perbuatan).

Ialah segala perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diberitakan oleh para sahabatnya.

Tentang wudhu, shalat, haji dan yang lainnya, contohnya :

 “Artinya : Dari Utsman bin Affan : Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (apabila berwudhu) beliau menyelai-nyelai jenggotnya”. (Hadits Riwayat Tirmidzi : 31, Ibnu Majah: 430, Ibnu Jarud : 43, Hakim 1/149 dan Hakim berkata sanadnya Shahih, Tirmidzi berkata : Hasan Shahih).

 3. Hadits Taqrir

Ialah segala perbuatan sahabat yang diketahui oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau membiarkannya (sebagai pertanda setuju) dan tidak mengingkarinya, contoh :

 “Artinya : Telah berkata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada Bilal setelah selesai shalat shubuh : ‘Wahai Bilal kabarkanlah kepadaku sebaik-baik amalan yang engkau telah kerjakan di dalam Islam, karena aku telah mendengar suara terompahmu dekatku di syurga ?’.

Jawabnya : ‘Sebaik-baik amal yang saya kerjakan ialah, bahwa tiap-tiap kali saya berwudhu siang atau malam maka dengan wudhu itu saya shalat (sunnat) beberapa rakaat yang dapat saya lakukan”. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

 Atau kisah dua sahabat yang keluar safar, keduanya tidak mendapatkan air (untuk berwudhu) sedangkan waktu shalat sudah tiba, lalu keduanya tayamum dan mengerjakan shalat, kemudian sesudah selesai shalat mereka mendapatkan air sedang waktu shalat masih ada, maka salah seorang dari keduanya mengulangi shalat dengan berwudhu, sedangkan temannya tidak mengulangi lagi shalatnya. Kemudian keduanya menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian itu. Lalu beliau berkata kepada yang tidak mengulangi shalatnya,

 “Engkau telah mencocoki sunnah” dan kepada yang mengulangi shalatnya beliau bersabda : “Engkau mendapatkan dua ganjaran”. (Hadits Riwayat Abu Dawud : 338-339, Nasa’i 1/213 dari Abu Sa’id Al-Khudri).

 

3. Menurut Para Sahabat dan Salafus Shalih

 Sering kita menyebut Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maksudnya ialah As-Sunnah sebagai sumber nilai tasyri. Al-Qur’an mensifatkan As-Sunnah dengan makna Hikmah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

 “Artinya : Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa

lagi Maha Bijaksana'”. (Al-Baqarah : 129)

 “Artinya : Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Ali Imran : 164).

 “Artinya : Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”. (An-Nisaa : 113).

 “Artinya : Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (Sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui”. (Al-Ahzab : 34).

 “Artinya : Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membaca ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Jumu’ah : 2)

 Penyebutan Al-Kitab pada ayat-ayat di atas maksudnya adalah Al-Qur’an dan yang dimaksud dengan Hikmah adalah As-Sunnah.

Imam Syafi’i berkata : “Allah menyebut Al-Kitab yang dimaksud adalah Al-Qur’an, dan menyebutkan Al-Hikmah, aku dengar di negeriku dari ahli ilmu yang mengerti Al-Qur’an berkata bahwa Al-Hikmah adalah As-Sunnah”.

 Qatadah berkata : “Yang dimaksud dengan Al-Hikmah adalah As-Sunnah”. Atha’ bin Yasar berkata :

“Taat kepada Rasul ialah mengikuti Al-Kitab was Sunnah”.

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Banyak dari Salafus Shalih berkata. Bahwa Al-Hikmah adalah As-Sunnah, karena sesungguhnya yang dibaca di rumah-rumah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (mudah-mudahan Allah meridhai mereka) adalah sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

 Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 “Artinya : Ketahuilah sesungguhnya aku diberikan Al-Kitab dan yang seperti itu

bersamanya”. (Hadits Riwayat Abu Daud dan lain-lain).

 Hasan bin ‘Athiyah berkata : “Adalah Jibril ‘Alaihis Salam turun kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa As-Sunnah sebagaimana membawa Al-Qur’an, juga mengajarkan As-Sunnah itu sebagaimana mengajarkan Al-Qur’an”.

 Dan lihat pula kitab-kitab tafsir yang menafsirkan ayat ini (Al-Ahzab : 34)

 Para Salafus Shalih memaknakan As-Sunnah adalah Dien dan Syari’at yang dibawa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mutlak dalam masalah ilmu, amal dan apa-apa yang diterima oleh para sahabat, tabi’in dan juga kepada Salafus Shalih sendiri dalam bidang aqidah maupun furu’.

 Abu Bakar berkata : “Sunnah itu adalah tali Allah yang kuat”.

 Abdullah bin Ad-Dailami (dari pembesar tabi’in) berkata : “Telah sampai kepadaku awal hilangnya agama ini adalah karena manusia meninggalkan As-Sunnah”.

 Hasan Al-Bashri dan Sufyan Ats Tsauri ketika menafsirkan ayat : “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan (agama) itu, itu maka ikutilah syariat itu “. (Al-Jatsiyah : 18). Keduanya berkata : “Yakni engkau di atas sunnah”.

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Sesungguhnya As-Sunnah itu adalah syari’at, yakni apaapa yang disyari’atkan Allah dan rasul-Nya dari agama ini”. As-Sunnah yang dimaksud adalah hadits-hadits Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

 Hubungan As-Sunnah Dengan Al-Qur’an 2

 

Ditinjau dari hukum yang ada maka hubungan As-Sunnah dengan Al-Qur’an, sebagai berikut :

 

  1. As-Sunnah berfungsi sebagai penguat hukum yang sudah ada di dalam Al-Qur’an.

Dengan demikian hukum tersebut mempunyai dua sumber dan terdapat pula dua dalil. Yaitu dalildalil yang tersebut di dalam Al-Qur’an dan dalil penguat yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. berdasarkan hukum-hukum tersebut banyak kita dapati perintah dan larangan. Ada perintah shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, ibadah haji ke Baitullah, dan disamping itu dilarang menyekutukan Allah, menyakiti kedua orang tua serta banyak lagi yang lainnya.

 

  1. Terkadang As-Sunnah itu berfungsi sebagai penafsir atau pemerinci hal-hal yang disebut secara mujmal dalam Al-Qur’an, atau memberikan taqyid, atau memberikan takhshish dari ayat-ayat Al-Qur’an yang muthlaq dan ‘am. Karena tafsir, taqyid dan takhshish yang dating dari As-Sunnah itu memberi penjelasan kepada makna yang dimaksud di dalam Al-Qur’an.

 

Dalam hal ini Allah telah memberi wewenang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan penjelasan terhadap nash-nash Al-Qur’an dengan firman-Nya.

 

“Artinya: ..Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (An-Nahl : 44)

 

Diantara contoh As-Sunnah men-takhshish Al-Qur’an adalah :

“Artinya : Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu, Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan”. (An-Nisaa : 11)

 

2 Disalin dari buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syari’at Islam oleh Yazid Abdul Qadir Jawas, terbitan Pustaka Al-Kautsar

 

 

 

Ayat ini ditakhshish oleh As-Sunnah :

 

  • Para nabi tidak boleh mewariskan apa-apa untuk anak-anaknya dan apa yang mereka tinggalkan adalah sebagai sadaqah.

 

  • Tidak boleh orang tua kafir mewariskan kepada anak yang muslim atau sebalinya, dan.

 

  • Pembunuh tidak mewariskan apa-apa (Hadits Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah).

 

As-Sunnah mentaqyid kemutlakan Al-Qur’an.

 

“Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan

keduanya..” (Al-Maidah : 38).

 

Ayat ini tidak menjelaskan sampai dimanakah batas tangan yang akan di potong. Maka dari As-Sunnahlah di dapat penjelasannya, yakni sampai pergelangan tangan. (Subulus Salam 4 : 53-55)

 

As-Sunnah sebagai bayan dari mujmal Al-Qur’an.

 

  • Menjelaskan tentang cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat”. (Hadits Riwayat Bukhari).

 

  • Menjelaskan tentang cara haji Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ambillah dariku tentang tata cara manasik haji kamu”. (Hadits Riwayat Muslim).

 

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang perlu penjelasan dari As-Sunnah karena masih mujmal.

 

Terkadang As-Sunnah menetapkan dan membentuk hukum-hukum yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an. Diantara hukum-hukum itu ialah tentang haramnya keledai negeri, binatang buas yang mempunyai taring, burung yang mempunyai kuku tajam, juga tentang haramnya mengenakan kain sutera dan cincin emas bagi kaum laki-laki. Semua ini disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih.

 

Dengan demikian tidak mungkin terjadi kontradiksi antara Al-Qur’an dengan As-Sunnah.

 

Imam Syafi’i berkata : “Apa-apa yang telah disunahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak terdapat pada Kitabullah, maka hal itu merupakan hukum Allah juga. Sebagaimana Allah mengabarkan kepada kita dalam firman-Nya.

 

“Artinya : ..Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allahlah kembali semua urusan”. (Asy-Syuura : 52-53).

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan hukum yang terdapat dalam Kitabullah, dan beliau menerangkan atau menetapkan pula hukum yang tidak terdapat dalam Kitabullah. Dan segala yang beliau tetapkan pasti Allah mewajibkan kepada kita untuk mengikutinya. Allah menjelaskan barangsiapa yang mengikutinya berarti ia taat kepada-Nya, dan barangsiapa yang tidak mengikuti beliau berarti ia telah berbuat maksiat kepada-Nya, yang demikian itu tidak boleh seorang mahluk pun melakukannya. Dan Allah tidak memberikan kelonggaran kepada siapapun

untuk tidak mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(Ar-Risalah hal. 88-89).

 

Ibnul Qayyim berkata : ” Adapun hukum-hukum tambahan selain yang terdapat di dalam Al-Qur’an, maka hal itu merupakan tasyri’ dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib bagi kita mentaatinya dan tidak boleh kita mengingkarinya. Tasyri’ yang demikian ini bukanlah mendahului Kitabullah, bahkan hal itu sebagai perwujudan pelaksanaan perintah Allah supaya kita mentaati Rasul-Nya. Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ditaati, maka ketaatan kita kepada Allah tidak mempunyai arti sama sekali. Karena itu kita wajib taat terhadap apa-apa yang sesuai dengan Al-Qur’an dan terhadap apa-apa yang beliau tetapkan hukumnya yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an.

 

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Barangsiapa taat kepada Rasul berarti ia taat kepada Allah”. (An-Nisaa : 80).

 

Jadi ringkasnya hubungan Al-Qur’an dengan As-Sunnah adalah sebagai berikut.

 

  1. Terkadang As-Sunnah berfungsi sebagai penguat hukum yang sudah ada di dalam Al-Qur’an.
  2. Terkadang As-Sunnah berfungsi sebagai penafsir dan pemerinci hal-hal yang disebut secara mujmal di dalam Al-Qur’an.
  3. Terkadang As-Sunnah menetapkan dan membentuk hukum yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an.

 

Penjelasan Bahwa Al-Qur’an Lebih Membutuhkan As-Sunnah Daripada As-Sunnah Membutuhkan Al-Qur’an 3

 

Diriwayatkan dari Makhul, ia berkata : “Al-Qur’an lebih membutuhkan As-Sunnah daripada As-Sunnah membutuhkan Al-Qur’an”, diriwayatkan oleh Said bin Mansur.

Diriwayatkan dari Yahya bin Abu Katsir, ia berkata : ‘As-Sunnah memutuskan (menetapkan) Al-Qur’an dan tidaklah Al-Qur’an memutuskan (menetapkan) As-Sunnah”, diriwayatkan oleh Ad-Darimi dan Said bin Manshur.

 

Al-Baihaqi berkata : “Maksud dari ungkapan di atas, bahwa kedudukan As-Sunnah terhadap Al-Qur’an adalah sebagai yang menerangkan sesuatu yang datang dari Allah, sebagaimana firman Allah.

 

“Artinya : Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka”. (An-Nhl : 44)

 

Bukan berarti bahwa sesuatu dari As-Sunnah bertentangan dengan Al-Qur’an.

Saya (penulis) mengatakan : “Kesimpulan bahwa maksud Al-Qur’an membutuhkan As-Sunnah adalah bahwa As-Sunnah menerangkan Al-Qur’an, As-Sunnah merinci segala ungkapan yang bersifat umum dalam Al-Qur’an, karena ungkapan dalam Al-Qur’an adalah ringkas dan padat hingga dibutuhkan seseorang yang mengetahui hal-hal yang tersembunyi dalam Al-Qur’an untuk diketahui dan yang mengetahui hal itu tidak lain hanyalah manusia yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang dimaksud dari ungkapan bahwa As-Sunnah memutuskan (menetapkan) Al-Qur’an, dan Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menerangkan As-Sunnah dan bukan untuk memutuskan (menetapkan) As-Sunnah, karena As-Sunnah sudah jelas dengan sendirinya, karena As-Sunnah belum sampai pada derajat Al-Qur’an dalam hal keringkasan dan dalam hal keajaibannya, karena As-Sunnah merupakan penjelasan Al-Qur’an, dan sesuatu yang menerangkan haris lebih jelas, lebih terang dan lebih mudah daripada yang diterangkan. Wallahu a’lam.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Hisyam bin Yahya Al-Makhzumy, bahwa seorang  laki-laki dari Tsaqif datang kepada Umar bin Khaththab, ia bertanya kepadanya tentang seorang wanita haidh yang mengunjungi Ka’bah, apakah wanita itu boleh pergi sebelum bersuci ?, maka Umar berkata : “Tidak” lalu laki-laki dari Tsaqif itu berkata kepada Umar : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi fatwa kepadaku dalam hal wanita seperti ini dengan fatwa yang tidak seperti apa yang  telah engkau fatwakan”, maka Umar memukul laki-laki itu dan berkata : “Mengapa engkau meminta fatwa dariku pada sesuatu yang telah difatwakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

 

Diriwayatkan dari Ibnu Khuzaimah, ia berkata : “Tidak boleh seorang berpendapat dengan pendapatnya jika terdapat kabar yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut”.

 

3 Disalin dari buku Mifthul Jannah fii Al-Ihtijaj bi As-Sunnah, edisi Indonesia KUNCI SURGA Menjadikan Sunnah Rasulullah

Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Sebagai Hujjah, oleh Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi.

 

Diriwayatkan dari Yahya bin Adam, ia berkata :”Tidaklah dibutuhkan pendapat manusia pada suatu masalah jika terdapat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah itu, dan hendaklah dikatakan bahwa itu adalah Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar, agar diketahui bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dengan ketetapan seperti demikian”.

 

Diriwayatkan dari Mujahid, ia berkata : “Pendapat setiap orang boleh diambil dan juga boleh ditinggalkan kecuali pendapat (ucapan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

 

Penjelasan Bahwa As-Sunnah Merupakan

Keterangan Al-Qur’an4

Sebagian mereka mengatakan, bahwa As-Sunnah merupakan keterangan Al-Qur’an, Ibnu Barjah

telah menyusun sebuah kitab yang menguatkan kedudukan As-Sunnah terhadap Al-Qur’an :

Diriwayatkan oleh Asy-Safi’i dan Al-Baihaqi melalui jalur Thawus bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa

sallam, bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya aku tidak menghalalkan sesuatu kecuali yang telah dihalalkan Allah

di dalam Kitab-Nya, dan aku tidak mengharamkan sesuatu kecuali yang telah diharamkan

Allah di dalam Kitab-Nya”.

Berkata Asy-Syafi’i : “Hadits ini munqathi’, dan begitulah yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa

sallam (menghalalkan sesuatu dan mengharamkan sesuatu), dengan demikian, terkadang beliau

telah memerintahkan lalu diwajibkan kepada beliau untuk mengikuti apa yang diwahyukan

kepadanya, dan kami bersaksi bahwa beliau telah mengikuti wahyu itu. Adapun tentang ketetapan

beliau yang tidak ada wahyunya, maka sesungguhnya Allah telah mewajibkan (kita) dalam wahyu

untuk mengikuti Sunnah beliau. Barangsiapa yang menerima Sunnah Rasulullah maka

sesungguhnya dia menerima perintah Allah yang ditetapkan dalam firman-Nya.

“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang

dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (Al-Hasyr : 7)

Sedangkan Al-Baihaqi dalam mengomentari hadits di atas, ia berkata : “Kalimat ‘di dalam Kitab-Nya’

pada hadits di atas, jika ungkapan ini benar maka yang dimaksud adalah pada sesuatu yang

diwahyukan kepada beliau, adapaun yang diwahyukan kepada beliau itu ada dua macam, salah

satunya adalah wahyu yang dibacakan, dan lainnya adalah wahyu yang tidak dibacakan. “Ibnu

Mas’ud telah berhujjah dengan ayat tersebut, yang juga dijadikan hujjah oleh Imam Syafi’i,

sebagaimana Imam Syafi’i berhujjah bahwa barangsiapa yang menerima dari Rasulullah Shallallahu

‘alaihi wa sallam, maka ia telah menerima berdasarkan Kitabullah, karena hukum mengikuti beliau

adalah hukum yang disebutkan dalam Kitabullah. Kemudian Imam Syafi’i menyebutkan hadits

terdahulu tentang dilaknatnya wanita yang mentato tubuhnya.

Kedudukan As-Sunnah Dalam Syari’at Islam5

Ummat Islam sepakat bahwa apa saja yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik

ucapan, perbuatan, atau taqrir yang sampai kepada kita dengan jalan Mutawatir dan Ahad dengan

sanad yang shahih, maka wajib bagi kita untuk menerimanya dan mengamalkannya. Pemberian

istilah Mutawatir dan Ahad adalah untuk menunjukkan nilai sanadnya, bukan untuk membolehkan

kita menimbang-nimbang dalam menerima dan menolak dalil-dalil tersebut.

As-Sunnah yang qath’iy dan zhani adalah sebagai hujjah bila sanadnya shahih, karena As-Sunnah

sebagai sumber pembentukkan hukum Islam yang oleh para ulama dan mujtahidin dijadikan

4 Disalin dari buku Mifthul Jannah fii Al–Ihtijaj bi As-Sunnah, edisi Indonesia KUNCI SURGA Menjadikan Sunnah Rasulullah

Shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Hujjah oleh Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi, terbitan Darul Haq hal. 60 61, penerjemah

Amir Hamzah Fachruddin

5 Disalin dari buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syariat Islam oleh Yazid Abdul Qadir Jawas, terbitan Pustaka Al-Kautsar

sebagai rujukan istimbath dan hukum syari’at. dengan kata lain, hukum-hukum yang ada pada As-

Sunnah adalah merupakan hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an, yang fungsinya sebagai

hukum dan perundang-undangan yang harus ditaati.

A. Dalil-dalil Tentang Hujjah As-Sunnah

Al-Qur’anul Karim menyuruh kita berhukum dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Terbukti betapa banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang menyuruh kita taat kepada Rasulullah

Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berhukum kepadanya.

1. Al-Ahzab : 36

“Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang

mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka

pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya

maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.

2. Al-Hujuraat : 1

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan

bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

3. Ali ‘Imran : 32

Artinya : Katakanlah : ‘Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya

Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

4. An-Nisaa : 79

“Artinya : …. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah

menjadi saksi”.

5. An-Nisaa : 80

“Artinya : Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan

barangsiapa yang berpaling (dari keta’atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi

pemelihara bagi mereka”.

6. An-Nisaa : 59

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di

antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia

kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan

hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

7. Al-Anfaal : 46

“Artinya : Dan Ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang

menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah

beserta orang-orang yang sabar”.

8. Al-Maa’idah : 92

“Artinya : Dan ta’atlah kamu kepada Allah dan ta’atlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhatihatilah.

Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami,

hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”.

9. An-Nuur : 63

“Artinya : Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian

kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang

berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah

orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang

pedih”.

10. Al-Anfaal : 24

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul

menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa

sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah

kamu akan dikumpulkan”.

11. An-Nisaa : 13

“Artinya : ..Barangsiapa ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam

surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya ; dan itulah

kemenangan yang besar”.

12. An-Nisaa : 14

“Artinya : Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuanketentuan-

Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya ;

dan baginya siksa yang menghinakan”.

13. An-Nisaa : 60

“Artinya : Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman

kapada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ?. Mereka

hendak berhakim kepada thagut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thagut itu. Dan

syaithan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”.

14. An-Nisaa : 61

“Artinya : Apabila dikatakan kepada mereka :”Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah

turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi

(manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”.

15. An-Nuur : 51

“Artinya : Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan

Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan : ‘Kami mendengar,

dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

16. An-Nuur : 52

“Artinya : Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan

bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.

17. Al-Hasyr : 7

“Artinya : …Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya

bagimu maka tinggalkanlah ; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras

hukuman-Nya”.

18. Al-Ahzab : 21

“Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)

bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hati kiamat dan dia banyak

menyebut Allah”.

19. An-Najm : 1 – 4

“Artinya : Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru,

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu

tiada lain hanyalah wahyu yang di wahyukan (kepadanya)”.

20. An-Nahl : 44

“Artinya : .. Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat

manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”.

B. Hadits-hadits yang Memerintahkan Kita Untuk Mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa

sallam Dalam Segala Hal.

Begitu pula halnya dengan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, banyak kita temui

perintah yang mewajibkan untuk mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala perkara,

diantaranya ialah :

1. Hadits Riwayat Bukhari 8/139

“Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

bersabda : ‘Setiap ummatku akan masuk syurga, kecuali yang enggan’. Mereka (para sahabat)

bertanya : ‘Siapa yang enggan itu ?. Jawab Beliau : ‘Barangsiapa yang mentaatiku pasti masuk

syurga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sungguh ia telah enggan”.

2. Hadits Riwayat Bukhari 8/139-140. Fathul Bari13/249-250

“Artinya : Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata : ‘Telah datang beberapa malaikat kepada Nabi

Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau sedang tidur. Sebagian dari mereka berkata : Dia sedang

tidur, dan yang lainnya berkata : Sesungghnya matanya tidur tetapi hatinya sadar. Para malaikat

berkata : Sesungghnya bagi orang ini ada perumpamaan, maka adakanlah perumpamaan baginya.

Sebagian lagi berkata : Sesungguhnya dia sedang tidur. Yang lain berkata : Matanya tidur tetapi

hatinya sadar. Para malaikat berkata : Perumpamaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah

seperti seorang yang membangun rumah, lalu ia menyediakan hidangan dalam rumahnya itu,

kemudian ia mengutus seorang pengundang, maka ada orang yang memenuhi undangannya, tidak

masuk ke rumah dan tidak makan hidangannya. Mereka berkata : Terangkan tafsir dari

perumpamaan itu agar orang dapat faham. Sebagian mereka berkata lagi : Ia sedang tidur. Yang

lainnya berkata : Matanya tidur, tetapi hatinya sadar. Para malaikat berkata : Rumah yang

dimaksud adalah syurga, sedang pengundang adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Barangsiapa mentaati Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti di taat kepada Allah, dan

barangsiapa mendurhakai Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah mendurhakai

Allah ; dan Muhammad itu adalah pemisah diantara manusia (yakni memisahkan antara orangorang

mu’min dengan orang-orang kafir atau antara yang haq dengan yang bathil)”.

3. Hadits Riwayat Bukhari 8 : 140

“Artinya : Dari Abu Musa, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Perumpamaanku dan

perumpamaan apa-apa yang Allah utus aku dengannya, adalah seperti seorang yang mendatangi

suatu kaum, lalu ia berkata : Wahai kaumku sesungguhnya aku melihat pasukan musuh dengan

mata kepalaku, dan sesungguhnya aku mengecam yang nyata, maka marilah menuju kepada

keselamatan. Sebagian dari kaum itu mentaatinya, lalu mereka masuk pergi bersamanya, maka

selamatlah mereka. Sebagian dari mereka mendustakannya, lalu mereka dihancurkan luluh

lantakkan. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang taat kepadaku dan mengikuti apa yang

aku bawa ; serta demikian pula perumpamaan orang yang durhaka kepadaku dan mendustakan

kebenaran yang aku bawa”

4. Hadits Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Thahawi

“Artinya : Dari Abi Rafi’i Radhiyallahu ‘anhu : ‘Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

: ‘Nanti akan ada seorang di antara kalian yang duduk di sofanya, lalu datang kepadanya perintah

dari apa-apa yang aku perintah dan aku larang. Ia berkata : Aku tidak tahu apa-apa, yang kami

dapati dalam Kitabullah itu yang kami ikuti (dan yang tidak terdapat dalam Kitabullah kami tidak

ikuti)”.

5. Hadits Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim dishahihkan Hakim dan Ahmad

“Artinya : Dari Miqdam bin Ma’dikariba, ia berkata : “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa

sallam : “Ketahuilah sesungguhnya aku diberikan Al-Qur’an dan yang seperti Al-Qur’an bersamanya,

ketahuilah nanti akan ada orang yang kenyang di atas sofanya seraya berkata : Cukuplah bagi kamu

berpegang dengan Al-Qur’an (saja), apa-apa yang kalian dapati hukum halal di dalamnya maka

halalkanlah, dan apa-apa yang kalian hukum haram di dalamnya maka haramkanlah. (Ketahuilah)

sesungguhnya apa-apa yang diharamkan Rasulullah sama seperti yang diharamkan Allah, ketahuilah

tidak halal bagi kalian keledai negeri dan tiap-tiap yang bertaring dari binatang buas, dan tidak halal

pula pungutan mu’akad, terkecuali bila pemiliknya tidak memerlukannya. Barangsiapa yang singgah

disatu kaum, maka wajib atas mereka menghormatinya, tetapi jika mereka tidak menghormatinya,

maka wajib baginya menggantikan yang serupa dengan penghormatan itu”.

6. Hadits Riwayat Hakim 1 : 93

“Artinya : Dari Abu Hurairah, ia berkata : ‘Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ;

Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan

sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta keduanya tidak akan terpisah sampai

keduanya mendatangiki di telaga (syurga)”.

7. Hadits Riwayat Abu Dawud 4207, Tirmidzi 2816, Ahmad 4/126-127.

“Artinya : Dari Abi Najih (Al-Irbadh) bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah

Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasihat kepada kami dengan suatu nasihat yang sungguhsungguh

meresap (dalam hati), sehingga hati kami menjadi gemetar dan air mata kami bercucuran,

lalu kami berkata : ‘Ya Rasulullah, rasanya seperti nasihat orang yang mau meninggalkan kami

(buat selama-lamanya), maka bepesan-pesanlah kepada kami!’ Kata beliau : Aku berpesan kepada

kalian agar tetap taqwa kepada Allah, serta mendengar dan taat walaupun kamu diperintah (di

pimpin) oleh seorang hamba dari negeri Habsyah (Ethiopia). Sesungghnya orang yang berusai

panjang di antara kalian akan melihat berbagai perselisihan yang banyak, maka pegangilah

Sunnahku dan Sunnah Khulafaurrasyidin yang memperoleh hidayah! Gigitlah kuat-kuat dengan gigi

gerahammu! Waspadalah terhadap segala sesuatu yang baru, sebab tiap-tiap yang baru itu bid’ah.

Dan setiap bid’ah sesat”.

C. Petunjuk Yang Dapat Diambil Dari Al-Qur’an dan As-Sunnah

Dalil-dalil dari Al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam yang tersebut

diatas memberikan petunjuk yang sangat penting sekali kepada kita, secara umum sebagai berikut.

1. Tidak ada perbedaan antara hukum Allah dan hukum Rasul-Nya, karenanya tidak boleh

seorang mu’min memilih-milih dengan maksud menyalahi, dan yang demikian termasuk

durhaka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam, sebagaiman dia durhaka kepada

Allah, perbuatan itu adalah kesesatan yang nyata.

2. Tidak boleh seseorang mendahului Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagiamana tidak

boleh ia mendahului Allah, yakni tidak boleh menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alihi

wa sallam. Ibnu Qayyim berkata dalam kitabnya I’lamul Muwaqqi’in tentang maksud surat Al-

Hujurat : 1, yaitu : “Janganlah kalian berkata hingga ia berkata, janganlah kalian

memerintah hingga ia memerintah, jangan berfatwa hingga ia berfatwa, dan jangan

menetapkan satu urusan hingga ia yang meghukum“.

3. Taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah.

4. Orang yang berpaling taat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti termasuk

orang kafir.

5. Bila terjadi perselisihan dalam urusan agama, maka wajib kita kembali kepada Allah dan

Rasul-Nya. Ibnu Qayyim berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan (manusia)

untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya, Ia (Allah) mengulangi kalimat ‘Wa’atiiur

Rasuula’ sebagai pemberitahuan bahwa taat kepada Rasul hukumnya wajib, tanpa pamrih

dan tanpa membandingkan lagi dengan Kitabullah. Bahkan perintah beliau wajib ditaati

secara mutlak, baik perintah itu ada dalam Al-Qur’an maupun tidak, karena beliau telah

diberi kitab dan yang seperti itu bersamanya. Dan Allah tidak menggunakan kata taat untuk

ulil amri, bahkan ia buang fi’il taat, karena kepada ulil amri sudah terkandung dalam taat

kepada Rasul. Para ulama telah sepakat bahwa kembali kepada Allah berarti kembali kepada

Kitab-Nya dan kembali kepada Rasul ketika beliau masih hidup, dan setelah beliau wafat

kembali kepada Sunnahnya, yang demikian termasuk dari syarat-syarat keimanan.

6. Jatuhnya kaum muslimin dan hilangnya kekuatan mereka disebabkan mereka terus berselisih

dan tidak mau kembali kepada As-Sunnah.

7. Orang yang menyalahi perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat fitnah

di dunia dan azab yang pedih di akhirat.

8. Orang yang menyalahi perintah Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam akan mendapatkan

akibat yang buruk di dunia dan akhirat.

9. Wajib memenuhi panggilan Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam (yakni memenuhi

Sunnahnya), karena dengan yang demikian akan diperoleh kebahagian hidup di dunia dan

akhirat.

10. Taat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam penyebab utama masuknya seseorang ke

dalam syurga dan memperoleh sukses yang besar. Sebaliknya orang yang durhaka

kepadanya akan masuk ke dalam neraka dengan mendapat azab yang menghinakan.

11. Di antara ciri-ciri orang-orang munafik, apabila mereka diajak untuk berhukum kepada

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnahnya, mereka menolak bahkan berusaha

untuk menghalang-halangi orang yang ingin kembali kepadanya.

12. Orang-orang mu’min berbeda dengan orang-orang munafik, karena orang-orang mu’min bila

diseru untuk berhukum dengan Sunnah Rasullullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam merka segera

memenuhi seraya berkata “Sami’na wa atha’na”.

13. Setiap yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib kita mengikuti dan

yang dilarang wajib kita menjauhinya.

14. Contoh teladan bagi umat Islam dalam semua urusan agama adalah Rasulullah Shallallahu

‘alaihi wa sallam.

15. Setiap kalimat yang diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada

hubungannya dengan agama dan urusan ghaib yang tidak dapat diketahui akal, maka hal itu

merupakan wahyu dari Allah kepada beliau yang tidak ada kebathilan di dalamnya.

16. As-Sunnah merupakan penjelasan Al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau.

17. Al-Qur’an harus dijabarkan dengan As-Sunnah, bahkan As-Sunnah sama dengan Al-Qur’an

dalam soal wajib taat mengikutinya.

18. Apa-apa yang diharamkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan apa-apa

yang diharamkan Allah, demikian pula segala sesuatu yang dibawa Rasulullah Shallallahu

‘alaihi wa sallam yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an, maka dia sama dengan Al-Qur’an

berdasarkan keumuman hadits No. 5.

19. Manusia bisa selamat dari kesesatan dan penyelewengan hanyalah dengan berpegang

kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang demikian itu merupakan hukum yang tetap berlaku

terus sampai hari kiamat, dan tidak boleh memisahkan antara keduanya.

20. Kewajiban mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup masalah

aqidah maupun ahkam, dan meliputi seluruh perkara agama, serta tertuju kepada siapa saja

yang sudah sampai kepadanya risalah da’wah hingga hari kiamat.

D. Dalil-dalil Ijma’ Yang Memerintahkan Untuk Mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa

sallam.

Umat Islam telah sepakat tentang wajibnya beramal dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa

sallam yang shahih, bahkan yang demikian termasuk memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Kaum

muslimin menerima As-Sunnah sebagaimana mereka menerima Al-Qur’an, karena As-Sunnah

merupakan sumber tasyri’ yang disaksikan Allah. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya.

“Artinya : Katakanlah : “Aku tidak mengatakan kepadamu, dan tidak (pula) aku mengetahui yang

ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak

mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah : “Apakah sama orang yang buta

dengan orang yang melihat ?”. Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya) ?”. (Al-An’aam : 50)

Kaum muslimin sejak masa sahabat Rasulullah, tabi’in, tabi’it-tabi’in, dan generasi sesudahnya

sampai hari ini mereka selalu mengembalikan setiap persoalan agama kepada Al-Qur’an dan As-

Sunnah, berpegang dengannya serta menjaganya.

Diantara dalil-dalil yang menyatakan bahwa para sahabat dan tabi’in berpegang kepada As-Sunnah,

yaitu :

1. Hadits Riwayat Ahmad 1: 160

“Artinya : Tatkala Abu Bakar memegang tampuk khalifah, datang Fatimah binti Muhammad

Rasulullah menemuinya untuk menanyakan bagian ayahnya, kemudian ia (Abu Bakar) berkata

kepadanya : “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‘Sesunguhnya Allah apabila memberi makan seorang Nabi lalu ia wafat, maka ia menjadikan sebagai

warisan bagi orang sesudahnya. Karena itulah aku memandang bagian ayahmu (Rasulullah

Shallallahu ‘alaihi wa sallam) harus dikembalikan kepada kaum muslimin’. Kemudian Fatimah

berkata : ‘Engkau lebih mengetahui dari aku tentang apa-apa yang telah engkau dengar dari

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

“Dalam riwayat lain ia (Abu Bakar) berkata : ‘Aku tidak akan meninggalkan sesuatupun yang

diamalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena aku khawatir bila aku meninggalkan

perintahnya aku akan sesat”.

2. Hadits Riwayat Darimy 1 : 72

“Artinya : Umar berkata : ‘Sesunguhnya aku mengutus mereka (para qadhi) agar mereka

mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummat agar mereka

membagi rampasan perang dengan adil, dan barangsiapa ragu-ragu hendaklah ia datang

menemuiku”.

3. Hadits Riwayat Ahmad 1 : 197-213

“Artinya : Umar bin Khaththab berdiri di hadapan Hajar Aswad seraya berkata : ‘Sesungguhnya aku

tahu bahwa engkau adalah batu, seandainya aku tidak melihat kekasihku (Nabi Muhammad

Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menciummu atau menyentuhmu, niscaya aku tidak akan menyentuh

dan menciummu”.

4. “Kata Sa’id bin Al-Musayyab : ‘Aku berwudhu seperti wudhunya Rasulullah dan aku shalat

sebagaimana shalatnya Rasulullah”.

5. Hadits Riwayat Ahmad 2 : 52

“Artinya : Ali berkata tentang berdiri ketika jenazah lewat :’Aku pernah melihat Rasulullah

Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, maka kami berdiri, dan beliau duduk, kamipun duduk”.

6. Hadits Riwayat Ahmad dan Hakim

“Artinya : Ada orang berkata kepada Abdullah bin Umar : ‘Kami tidak mendapati dalam Al-Qur’an

tentang cara shalat safar ?’. Ibnu Umar berkata : ‘Sesunguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mengutus

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita yang tadinya kita tidak mengetahui

sesuatu, karenanya hendaklah kita berbuat (beramal) sebagaimana kita melihat Nabi Muhammad

Shallallahu ‘alaihi wa sallam perbuat’. Dalam riwayat lain ia berkata : ‘Tadinya kita sesat, lalu Allah

menunjukkan kita dengan beliau, karenanya kita wajib mengikuti jejak beliau”.

7. Hadits Riwayat Ahmad

“Artinya : Datang seorang wanita kepada Abdullah bin Mas’ud, ia berkata : ‘Aku diberi kabar bahwa

engkau melarang wanita menyambung rambut ?’ Abdullah bin Mas’ud menjawab : ‘Ya’. Si wanita

bertanya : ‘Apakah larangan itu ada dalam Kitabullah atau engkau mendengar (langsung) dari

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.? Abdullah bin Mas’ud menjawab :’Aku dapati (larangan itu)

dalam Kitabullah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam’. Si wanita berkata lagi :’Demi

Allah, aku sudah baca mushaf Al-Qur’an dari awal sampai akhir, tetapi tidak aku dapati larangan

itu’. Ibnu Mas’ud berkata :’Bukankah ada di dalamnya : “Apa-apa yang datang dari Rasulullah, da

apa-apa yang dilarang tinggalkanlah”. ‘Ya’ jawab wanita itu. Selanjutnya Ibnu Mas’ud berkata :

‘Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mencabut bulu

dahi, mengikir gigi, menyambung rambut dan mencacah kecuali sakit”.

8. Al-Maruuzy As-Sunnah hal. 14

Mu’awiyah pernah berkhutbah di atas mimbar, sesudah memuji Allah dan menyanjung-Nya, ia

berkata : ‘Wahai orang-orang Arab, demi Allah seandainya kalian tidak melaksanakan Sunnah Nabi

Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka selain kalian juga tidak akan melaksanakannya”.

9. Al-Jami’ Bayannil ‘Ilmi wa Fadhlihi

Abu Nadhrah meriwayatkan dari sahabat Imran bin Husein, ada seorang datang kepadanya bertanya

tentang sesuatu, lalu Imran bin Husein menjawabnya dari Sunnah Nabi, lalu orang yang bertanya

tadi berkata : “Jawablah dari Kitabullah, jangan engkau sampaikan dari selainnya”. Imran berkata :

“Kamu ini orang bodoh… Apakah kamu dapati dalam Al-Qur’an shalat zhuhur empat rakaat tidak

dijaharkan bacaannya, bilangan rakaat-rakaat shalat, ukuran zakat .???. Kemudian ia berkata lagi :

“Apakah kamu dapati semua itu diterangkan dalam Al-Qur’an ?. Ketahuilah Al-Qur’an yang

memerintahkan, dan As-Sunnah yang menafsirkan atau menjelaskannya”.

Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh tentang berpegangnya para sahabat dan tabi’in

terhadap sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kemudian di ikuti oleh orang-orang

sesudahnya. Dari kalangan tabi’in yang bernama Mutharrif bin Abdullah bin Syakhir pernah ditanya

oleh seseorang : “Janganlah engkau sampaikan kepada kami selain Al-Qur’an saja“. Mutharrif

berkata : “Demi Allah kami tidak menghendaki ganti dari Al-Qur’an, tetapi kami ingin

(menyampaikan) penjelasan dari orang yang lebih mengetahui tentang Al-Qur’an daripada kami,

yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau yang menjelaskan Al-Qur’an, menerapkan

dalam taklimnya, menerangkan maksud dan tujuan firman Allah, serta merinci hukum-hukumnya

dengan sunnah beliau yang suci. Beliau adalah qudwah bagi kaum muslimin (sampai hari kiamat),

oleh karena itu berpeganglah kalian dengan As-Sunnah ini sebagaimana kalian berpegang kepada

Al-Qur’anul karim, dan jangalah As-Sunnah ini sebagaimana kalian menjaga Al-Qur’an”.

 

Pernyataan Para Imam Untuk Mengikuti Sunnah Dan Meninggalkan

Yang Menyalahi Sunnah6

 

Oleh. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

 

Kiranya ada gunanya di sini saya paparkan sebagian atau seluruhnya ucapan-ucapan yang saya ketahui dari mereka. Semoga kutipan ini dapat menjadi pelajaran dan peringatan bagi mereka yang taklid kepada para imam atau kepada yang lainnya dengan cara membabi buta, dan berpegang pada madzhab dan pendapat mereka seolah-olah hal itu seperti sebuah firman yang turun dari langit. Allah berfirman.

 

“Artinya : Ikutilah oleh kalian apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain Dia. Sungguh sedikit sekali kamu ingat kepadanya”. (Al-A’raf : 3)

 

Sikap taqlid inilah yang disindir oleh Imam Thahawi ketika beliau menyatakan : “Tidak akan taqlid kecuali orang yang lemah pikirannya atau bodoh”. Ucapan ini dinukil oleh Ibnu Abidin dalam kitab Rasmu Al-Mufti (I/32), dari kitab Majmu’atul Rasail-nya.

 

Berikut ini saya paparkan pernyataan para Imam Madzhab.

 

1. Abu Hanifah Rahimahullaah

 

Imam madzhab yang pertama adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Para muridnya telah meriwayatkan berbagai macam perkataan dan pernyataan beliau yang seluruhnya mengandung satu tujuan, yaitu kewajiban berpegang pada Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan sikap membeo pendapat-pendapat para imam bila bertentangan dengan Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Ucapan beliau.

 

  • [A] “Artinya : Jika suatu Hadits shahih, itulah madzhabku”. [Dinukil dari Muqadimah buku Shifatu Shalaati An-Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa sallama min At-Takbiiri ilaa At-Tasliimi Ka-annaka Taraahaa, edisi Indonesia Shifat Shalat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam penulis Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Media Hidayah-Yogyakarta, hal. 52 – 56, penerjemah Muhammad Thalib]

 

  • [B] “Artinya : Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya”

 

Pada riwayat lain dikatakan bahwa beliau mengatakan : “Orang yang tidak mengetahui dalilku, haram baginya menggunakan pendapatku untuk memberikan fatwa”. Pada riwayat lain ditambahkan : “Kami hanyalah seorang manusia. Hari ini kami berpendapat demikian tetapi besok kami mencabutnya“. Pada riwayat lain lagi dikatakan : “Wahai Ya’qub (Abu Yusuf), celakalah kamu ! Janganlah kamu tulis semua yang kamu dengar dariku. Hari ini saya berpendapat demikian, tapi hari esok saya meninggalkannya. Besok saya berpendapat demikian, tapi hari berikutnya saya meninggalkannya”.

 

Komentar saya(Al Albani) : Karena imam ini sering kali mendasarkan pedapatnya pada qiyas, karena ia melihat qiyas itu lebih kuat ; atau telah sampai kepadanya Hadits Nabi, lalu ia ambil Hadits ini, lalu dia meninggalkan pendapatnya yang terdahulu. Sya’rani, dalam kitab Al-Mizan (I/62), berkata yang ringkasnya.

“Keyakinan kami dan keyakinan semua orang yang arif tentang Imam Abu Hanifah ialah jika beliau masih hidup sampai masa pembukuan Hadits dan sesudah ahli Hadits menjelajah semua negeri dan pokok wilayah Islam untuk mencarinya, niscaya beliau akan berpegang pada Hadits-Hadits dan meninggalkan setiap qiyas yang dahulu digunakannya, sehingga qiyas hanya sedikit dipakai pada madzhab beliau sebagaimana pada madzhab-madzhab lainnya. Akan tetapi, karena pada masanya dalil-dalil Hadits ada pada para pengikutnya yang terpencar-pencar di berbagai kota, kampung, dan pojok-pojok negeri Islam, penggunaan qiyas pada madzhab Hanafi lebih banyak dibanding dengan madzhab lainnya, karena keadaan terpaksa, sebab tidak ada nash tentang masalah-masalah yang beliau tetapkan berdasarkan qiyas. Hal ini berlainan dengan madzhab-madzhab lain. Para ahli hadits pada saat itu telah menjelajah berbagai penjuru wilayah Islam untuk mencari Hadits dan mengumpulkannya dari berbagai kota dan kampung sehingga Hadits-hadits tentang hokum bisa terkumpul semuanya. Inilah yang menjadi sebab banyaknya pemakaian qiyas dalam madzhab beliau, sedangkan pada madzhab-madzhab yang lain sedikit.

Sebagian besar dari pendpat-pendapat Hanafi ini dinukil oleh Abu Al-Hasanat dalam kitab An-Nafi’ Al-Kabir hal. 135 dan beliau memberi komentar dengan keterangan yang dapat mejelaskan dan menguatkan pendapatnya. Silakan baca kitab tersebut.

 

Komentar saya : Menjadi suatu udzur dari Abu Hanifah bila pendapatnya ternyata

bertentangan dengan Hadits-hadits shahih dan udzur dia ini pasti termaafkan. Allah tidak memaksa seseorang di luar kemampuannya. Jadi, beliau tidak boleh dicerca dalam hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang yang bodoh. Orang justru wajib hormat kepada beliau, sebab dia adalah salah seorang di antara imam kaum muslimin yang telah memelihara agama ini dan menyampaikan kepada kita berbagai bagian dari agama. Beliau mendapat pahala atas segala usahanya, yang benar atau yang keliru. Di samping itu, tidak seseorang yang menghormati beliau boleh terus meneru berpegang pada pendapat-pendapat beliau yang bertentangan dengan Hadits-hadits shahih, sebab cara semacam itu bukanlah madzhabnya,  sebagaimana telah Anda lihat sendiri pernyataan-pernyataanya dalam hal ini.

Mereka para imam yang saling berbeda pendapat itu, ibarat lembah-lembah dan kebenaran bisa ada pada lembah yang satu atau mungkin pada lembah lainnya. Oleh karena itu, wahai Tuhan kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan ; janganlah Engkau jadikan hati kami dengki kepada orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

 

  • [C] “Artinya : Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tinggalkanlah pendapatku itu”.

Al-Filani dalam kitab Al-Iqazh hal. 50, menisbatkannya kepada Imam Muhammad juga, kemudian ujarnya. “Hal semacam ini dan lain-lainnya yang serupa bukanlah menjadi sifat mujtahid, sebab dia tidak mendasarkan hal itu pada pendapat mereka, bahkan hal semacam ini merupakan sifat muqallid”.

 

Komentar saya : Berdasarkan hal diatas, Sya’rani dalam Kitab Al-Mizan (I/26) berkata : “Jika saya berkata, apa yang harus saya lakukan terhadap Hadits-hadits shahih setelah kematian imamku, dimana beliau dahulu tidak mengambil Hadits tersebut”.

 

Jawabnya : Anda seharusnya mengamalkan Hadits tersebut, sebab sekiranya imam Anda mengetahui Hadits-hadits itu dan menurutnya shahih, barangkali beliau akan menyuruh Anda juga berbuat begitu sebab para imam itu semuanya terikat pada Syari’at. Barangsiapa yang mengikuti hal itu, kedua tangannya akan meraih kebajikan. Akan tetapi, barangsiapa yang mengatakan :”Saya tidak mau mengamalkan suatu Hadits kecuali kalau hal itu diamalkan oleh imam saya”, akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kebaikan, seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang taqlid kepada imam madzhab. Yang lebih utama untuk mereka adalah mengamalkan setiap Hadits yang shahih yang ada sepeninggal imam mereka, demi melaksanakan pesan para imam tersebut. Menurut keyakinan kami, sekiranya mereka itu masih hidup dan mendapatkan Hadits-hadits yang shahih sepeninggal mereka ini, niscaya mereka akan mengambilnya dan melaksanakan isinya serta meninggalkan semua qiyas yang dahulu pernah mereka lakukan atau setiap pendapat yang dahulu pernah mereka kemukakan.

 

2. Malik bin Anas

 

Imam Malik bin Anas menyatakan :

 

  • [A] Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, ambillah ; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah”. [Ibnu ‘Abdul Barr dan dari dia juga Ibnu Hazm dalam kitabnya Ushul Al-Ahkam (VI/149), begitu pula Al-Fulani hal. 72.]

 

  • [B] “Siapa pun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri”.

 

Dikalangan ulama mutaakhir hal ini populer dinisbatkan kepada Imam Malik dan dinyatakan shahihnya oleh Ibnu Abdul Hadi dalam kitabnya Irsyad As-Salik (1/227). Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abdul Barr dalam kitab Al-Jami’ (II/291), Ibnu Hazm dalam kitab Ushul Al-Ahkam (VI/145, 179), dari ucapan Hakam bin Utaibah dam Mujahid. Taqiyuddin Subuki menyebutkannya dalam kitab Al-Fatawa (I/148) dari ucapan Ibnu Abbas. Karena ia merasa takjub atas kebaikan pernyataan itu, ia berkata : “Ucapan ini diambil oleh Mujahid dari Ibnu Abbas, kemudian Malik mengambil ucapan kedua orang itu, lalu orang-orang mengenalnya sebagai ucapan beliau sendiri”.

 

Komentar saya : Kemudian Imam Ahmad pun mengambil ucapan tersebut. Abu Dawud dalam kitab Masaail Imam Ahmad hal. 276 mengatakan : “Saya mendengar Ahmad berkata :

 

Setiap orang pendapatnya ada yang diterima dan ditolak, kecuali Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  • [C] Ibnu Wahhan berkata : “Saya pernah mendengar Malik menjawab pertanyaan orang tentang menyela-nyela jari-jari kaki dalam wudhu, jawabnya : ‘Hal itu bukan urusan manusia’. Ibnu Wahhab berkata : ‘Lalu saya tinggalkan beliau sampai orang-orang yang mengelilinginya tinggal sedikit, kemdian saya berkata kepadanya : ‘Kita mempunyai Hadits mengenai hal tersebut’. Dia bertanya : ‘Bagaimana Hadits itu ?. Saya menjawab : ‘Laits bin Sa’ad, Ibnu Lahi’ah, Amr bin Harits, meriwayatkan kepada kami dari Yazid bin ‘Amr Al-Mu’afiri, dari Abi ‘Abdurrahman Al-Habali, dari Mustaurid bij Syaddad Al-Qurasyiyyi, ujarnya :

 

‘Saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggosokkan jari manisnya pada celah-celah jari-jari kakinya’. Malik menyahut :‘ Hadits ini hasan, saya tidak mendengar ini sama sekali, kecuali kali ini. ‘Kemudian di lain waktu saya mendengar dia ditanya orang tentang hal yang sama, lalu beliau menyuruh orang itu untuk menyela-nyela jari-jari kakinya”. [Muqaddimah kitab Al-Jarh Wa At-Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 31-32 dan diriwayatkansecara lengkap oleh Baihaqi dalam Sunnan-nya (I/81)]

 

3. Syafi’i

 

Riwayat-riwayat yang dinukil orang dari Imam Syafi’i dalam masalah ini lebih banyak dan lebih bagus dan pengikutnya lebih banyak yang melaksanakan pesannya dan lebih beruntung.

 

Ibnu Hazm berkata dalam kitab VI/118 “Para ahli fiqh yang ditaqlidi telah menganggap batal taqlid itu sendiri. Mereka melarang para pengikutnya untuk taqlid kepada mereka. Orang yang paling keras dalam melarang taqlid ini adalah Imam Syafi’i. Beliau dengan keras menegaskan agar mengikuti Hadits-hadits yang shahih dan berpegang pada ketetapan-ketetapan yang digariskan dalam hujjah selama tidak ada orang lain yang menyampaikan hujjah yang lebih kuat serta beliau

sepenuhnya berlepas diri dari orang-orang yang taqlid kepadanya dan dengan terang-terangan mengumumkan hal ini. Semoga Allah memberi manfaat kepada beliau dan memperbanyak pahalanya. Sungguh pernyataan beliau menjadi sebab mendapatlan kebaikan yang banyak”.

 

Imam Syafi’i berpesan antara lain.

 

  • [A] “Setiap orang harus bermadzhab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengikutinya. Apa pun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi ternyata berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah itulah yang menjadi pendapatku” [Hadits Riwayat Hakim dengan sanad bersambung kepada Imam Syafi’i seperti tersebut dalam kitab Tarikh Damsyiq, karya Ibnu ‘Asakir XV/1/3, I’lam Al-Muwaqqi’in (II/363-364), Al-Iqazh hal.100]

 

  • [B] “Seluruh kaum muslim telah sepakat bahwa orang yang secara jelas telah mengetahui suatu hadits dari Rasulullah tidak halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang” [Ibnul Qayyim (II/361), dan Al-Filani hal. 68]

 

  • [C] “Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan Hadits Rasulullah, peganglah Hadits Rasulullah itu dan tinggalkan pendapatku itu” [Harawi dalam kitab Dzamm Al-Kalam (III/47/1), Al-Khathib dalam Ihtijaj Bi Asy-Syafi’i (VIII/2), Ibnu Asakir (XV/9/1), Nawawi dalam Al-Majmu’ (I/63), Ibnul Qayyim (II/361), Al-Filani hal. 100 dan riwayat lain oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (IX/107) dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (III/284, Al-Ihsan) dengan sanad yang shahih dari beliau, riwayat semakna]

 

  • [D] “Bila suatu Hadits shahih, itulah madzhabku” Nawawi, dalam Al-Majmu’, Sya’rani (I/57) dan ia nisbatkan kepada Hakim dan Baihaqi, Filani hal. 107. Sya’rani berkata : ” Ibnu Hazm menyatakan Hadist ini shahih menurut penilaiannya dan penilaian imam-imam yang lain”.

 

Komentar saya : Pernyataan beliau yang akan diuraikan setelah komentar dibawah ini menunjukkan pengertian yang dimaksud secara jelas. Nawawi berkata ringkasnya:

 

“Para sahabat kami mengamalkan Hadits ini dalam masalah tatswib (mengulang kalimat adzan), syarat orang ihram melakukan tahallul karena sakit, dan lain-lain hal yang sudah populer dalam kitab-kitab madzhab kami. Ada di antara sahabat-sahabat kami yang memberikan fatwa berdasarkan Hadits antara lain : “Abu Ya’qub Buwaiti, Abu Al-Qasim Ad-Dariqi, dan sahabat-sahabat kami dari kalangan ahli Hadits yang juga berbuat demikian, yaitu Imam Abu bakar, Baihaqi, dan lain-lain. Mereka adalah sejumlah sahabat kami dari kalangan terdahulu. Bila mereka melihat pada suatu masalah ada Haditsnya, sedangkan Hadits tersebut berlainan dengan madzhab Syafi’i, mereka mengamalkan Hadits tersebut dan berfatwa : “Madzhab Syafi’i sejalan dengan Hadits ini”.

 

Syaikh Abu Amer berkata : “Bila seorang dari golongan Syafi’i menemukan Hadits

bertentangan dengan madzhabnya, hendaklah ia mempertimbangkan Hadits tersebut. Jika memenuhi syarat untuk berijtihad, secara umum atau hanya mengenai hal tersebut, dia mempunyai kebebasan untuk berijtihad, secara umum atau hanya mengenai hal tersebut, dia mempunyai kebebasan untuk berijtihad, Akan tetapi, jika tidak memenuhi syarat, tetap berat untuk menyalahi Hadits sesudah melakukan kajian dan tidak menemukan jawaban yang memuaskan atas perbedaan tersebut, hendaklah ia mengamalkan Hadits jika ada Imam selain Syafi’i yang mengamalkan Hadits tersebut. Hal ini menjadi hal yang dimaafkan bagi yang bersangkutan untuk meninggalkan imam madzhabnya dalam masalah tersebut dan apa yang menjadi pendapatnya adalah pilihan yang baik. wallahu A’lam.

 

Komentar Saya : Ada suatu keadaan lain yang tidak dikemukakan oleh Ibnu Shalah, yaitu bagaimana kalau ternyata orang itu tidak mendapatkan imam lain sebelumnya yang mengamalkan Hadits tersebut ? Apa yang harus ia lakukan ? Hal ini dijawab oleh Taqiyuddin Subuki dalam Risalah-nya tentang maksud ucapan Imam Syafi’i “Apabila ada Hadits yang shahih …” Juz 3 hal, 102 :

 

“Menurut pendapatku, yang lebih utama adalah mengikuti Hadits. Hendaklah yang

bersangkutan menganggap seolah-olah dia berada di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia mendengar beliau bersabda seperti itu. Apakah ia layak untuk

mengesampingkan pengamalan Hadits semacam itu ? Demi Allah, tidak. Setiap orang mukallaf bertanggung jawab sesuai dengan tingkat pemahamannya (dalam mengamalkan Hadits)”.

 

Pembahasan tentang hal ini dapat Anda baca pada kitab I’lam Al-Muwaqqi’in (II/302 dan 370), Al-Filani dalam kitab Iqazhu Humami Ulil Abrar…, sebuah kitab yang tidak ada duanya dalam masalah ini. Para pencari kebenaran wajib mempelajarinya dengan serius dan penuh perhatian terhadap kitab ini.

 

  • [E] “Kalian lebih tahu tentang Hadits dan para rawinya daripada aku. Apabila suatu Hadits itu shahih, beritahukanlah kepadaku biar di mana pun orangnya, apakah di Kuffah, Bashrah, atau Syam, sampai aku pergi menemuinya”

 

Ucapan ini ditujukan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Adabu Asy-Syafi’i hal. 94-95, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (IX/106), Al-Kahtib dalam Al-Ihtijaj (VIII/1), diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Asakir dari beliau (XV/9/1), Ibnu ‘Abdil Barr dalam Intiqa hal. 75, Ibnu Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad hal. 499, Al-Harawi (II/47/2) dengan tiga sanad, dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dari bapaknya, bahwa Imam Syafi’i pernah berkata kepadanya : “….. Hal ini shahih dari beliau. Oleh karena itu, Ibnu Qayyim menegaskan penisbatannya kepada Imam Ahmad dalam Al-I’lam (II/325) dan Filani dalam Al-Iqazh hal. 152″. Selanjutnya, beliau berkata : “Baihaqi berkata : ‘Oleh karena itu, Imam Syafi’i banyak mengikuti Hadits. Beliau mengambil ilmu dari ulama Hizaz, Syam, Yaman, dan Iraq’. Beliau mengambil semua Hadits kepada madzhab yang tengah digandrungi oleh penduduk negerinya, sekalipun kebenaran yang dipegangnya menyalahi orang lain. Padahal ada ulama-ulama sebelumnya yang hanya membatasi diri pada madzhab yang dikenal di negerinya tanpa mau berijtihad untuk mengetahui kebenaran pendapat yang bertentangan dengan dirinya”. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka”.

 

  • [F] “Bila suatu masalah ada Haditsnya yang sah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut kalangan ahli Hadits, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku akan mencabutnya, baik selama aku hidup maupun setelah aku mati” [Au Nu’aim dalam Al-Hilyah (IX/107), Al-Harawi (47/1), Ibnu Qayyim dalam Al-I’lam (II/363) dan Al-Filani hal. 104]

 

  • [G] “Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yang ternyata menyalahi Hadits Nabi yang shahih, ketahuilah bahwa hal itu berarti pendapatku tidak berguna” [Ibnu Abi Hatim dalam Adabu Asy-Syafi’i hal. 93, Abul Qasim Samarqandi dalam Al-Amali seperti pada Al-Muntaqa, karya Abu Hafs Al-Muaddib (I/234), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (IX/106), dan Ibnu Asakir (15/101) dengan sanad shahih]

 

  • [H] “Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hadits Nabi lebih utama dan kalian jangang bertaqlid kepadaku” [Ibnu Abi Hatim hal 93, Abu Nu’aim dan Ibnu ‘Asakir (15/9/2) dengan sanad shahih]

 

  • [ I ] “Setiap Hadits yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti itulah pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarnya sendiri dari aku” [Ibnu Abi Hatim, hal. 93-94]

 

4. Ahmad bin Hanbal

 

Ahmad bin Hanbal merupakan seorang imam yang paling banyak menghimpun Hadits dan berpegang teguh padanya, sehingga beliau benci menjamah kitab-kitab yang memuat masalah furu’ dan ra’yu [Ibnu Jauzi dalam Al-Manaqib hal. 192]

 

Beliau menyatakan sebagai berikut :

 

  • [A] “Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Sayfi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil [Al-Filani hal. 113 dan Ibnul Qayyim dalam Al-I’lam (II/302)].

Pada riwayat lain disebutkan : “Janganlah kamu taqlid kepada siapapun mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil. Adapun tentang tabi’in, setiap orang boleh memilihnya (menolak atau menerima)” Kali lain dia berkata : “Yang dinamakan ittiba’ yaitu mengikuti apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sedangkan yang datang dari para tabi’in boleh dipilih”. [Abu Dawud dalam Masa’il Imam Ahmad hal. 276-277]

 

  • [B] ” Pendapat Auza’i, Malik dan Abu Hanifah adalah ra’yu (pikiran). Bagi saya semua ra’yu sama saja, tetapi yang menjadi hujjah agama adalah yang ada pada atsar (Hadits)” [IbnuBadul Barr dalam Al-Jami’ (II/149)]

 

  • [C] “Barangsiapa yang menolak Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berada di jurang kehancuran” [Ibnul Jauzi hal. 142]

 

Demikianlah pernyataan para imam dalam menyuruh orang untuk berpegang teguh pada Hadits dan melarang mengikuti mereka tanpa sikap kritis. Pernyataan mereka itu sudah jelas tidak bias dibantah dan diputarbalikkan lagi. Mereka mewajibkan berpegang pada semua hadits yang shahih sekalipun bertentangan dengan sebagian pendapat mereka tersebut dan sikap semacam itu tidak dikatakan menyalahi madzhab mereka dan keluar dari metode mereka, bahkan sikap itulah yang disebut mengikuti mereka dan berpegang pada tali yang kuat yang tidak akan putus. Akan tetapi, tidaklah demikian halnya bila seseorang meninggalkan Hadits-hadits yang shahih karena dipandang menyalahi pendapat mereka. Bahkan orang yang berbuat demikian telah durhaka kepada mereka dan menyalahi pendapat-pendapat mereka yang telah dikemukakan di atas.

 

Allah berfirman.

“Artinya : Demi Tuhanmu, mereka itu tidak dikatakan beriman sehingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam menyelesaikan sengketa diantara mereka, kemudian mereka tidak berkeberatan terhadap keputusanmu dan menerimanya dengan sepenuh ketulusan hati”. [An-Nisa’ : 65]

 

Allah juga berfirman.

“Artinya : Orang-orang yang menyalahi perintahnya hendaklah takut fitnah akan menerima mereka atau azab yang pedih akan menimpa mereka”. [An-Nur : 63]

 

Imam Hafizh Ibnu Rajab berkata :

“Kewajiban orang yang telah menerima dan mengetahui perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menyampaikan kepada ummat, menasihati mereka, dan menyuruh mereka untuk mengikutinya sekalipun bertentangan dengan pendapat mayoritas ummat. Perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berhak untuk dimuliakan dan diikuti dibandingkan dengan pendapat tokoh mana pun yang menyalahi perintahnya, yang terkadang pendapat mereka itu salah.

 

Oleh karena itulah, para sahabat dan para tabi’in selalu menolak pendapat yang menyalahi Hadits yang shahih dengan penolakan yang keras [6] yang mereka lakukan bukan karena benci, tetapi karena rasa hormat. Akan tetapi, rasa hormat mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih tinggi daripada yang lain dan kedudukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh diatas mahluk lainnya.

 

Komentar saya : “Bahkan bapak-bapak dan ulama-ulama mereka juga begitu, sebagaimana diriwayatkan oleh Thahawi dala Syarah Ma’anil Atsar (I/372). Abu Ya’la dalam Musnad-nya (III/1317) dengan sanad jayyid dan rawi-rawinya orang kepercayaan, dari Salim bin Abdullah bin Umar, ujarnya :

 

“Saya pernah duduk bersama Ibnu ‘Umar di dalam masjid. Tiba-tiba salah seorang laki-laki dari penduduk Syam datang kepadanya, lalu menanyakan masalah umrah dalam haji tamattu”. Ibnu Umar menjawab :”Baik”. Orang itu bertanya lagi : “Benarkan bapakmu dahulu melarang melakukan hal ini?” Jawabnya “Celakalah engkau. Sekiranya bapakku dulu pernah melarang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya dan menyuruh berbuat seperti itu. Apakah engkau akan mengambil ucapan bapakku ataukah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Orang itu berkata : “Mengambil perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Ibnu Umar berkata : “Pergilah dari aku” (Hadits Riwayat Ahmad, Hadits No. 5700). Semakna dengan riwayat ini disebutkan oleh Tirmidzi pada Syarah Tahfah (II/82) dan disahkan olehnya. Diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Asakir (VII/51/1) dari Ibnu Abu Dzi’ib. Ia berkata : “Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf pernah menjatuhkan hukuman kepada seseorang berdasarkan pendapat Rabi’ah bin Abi Abdurrahman, lalu saya sampaikan kepadanya riwayat dari Rasulullah yang berlainan dengan hukum yang telah ditetapkannya. Sa’ad berkata kepada Rabi’ah : ‘Orang ini adalah Ibnu Abi Dzi’ib, seorang yang saya pandang dapat dipercaya. Dia meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayat yang berlainan dengan ketetapan yang aku putuskan.

 

‘Rabi’ah berkata kepadanya :

‘Anda telah berijtihad dan keputusan Anda ada lebih dulu’. Sa’ad berkata :’Duhai, apakah ketetapan Saad terus berlaku dan ketetapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diberlakukan ?

 

Mestinya aku menolak ketetapan Sa’ad bin Ummi Sa’ad dan aku jalankan ketetapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam’. Lalu Sa’ad meminta surat keputusannya, kemudian merobeknya dan membuat ketetapan baru ini kepada orang yang dikenai putusan”.

 

Bila perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata berlawanan dengan perintah yang lain, perintah beliau lebih utama didahulukan dan diikuti, tanpa sikap merendahkan orang yang berbeda dengan perintah beliau, sekalipun orang itu mendapatkan ampunan dari Allah.

 

Komentar saya : “Bahkan orang seperti itu mendapat pahala sebagaimana sabda Rasulullah Shallalalhu ‘alaihi wa sallam : “Apabila seorang hakim berijtihad dalam menetapkan suatu hokum dan ijtihadnya benar, ia mendapat dua pahala ; jika ia berijtihad dalam menetapkan hukum dan ijtihadnya salah, ia mendapat satu pahala”. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim dan lain-lain).

 

Bahkan orang yang mendapat ampunan dari Allah, yang pendapatnya menyalahi perintah Rasuluallah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merasa benci bila seseorang meninggalkan pendapatnya, ketika ia mendapati bahwa ketentuan Rasulullah berlawanan dengan pendapatnya.

 

[Beliau nukil dalam Kitab Ta’liq ‘ala Iqazhul Humam hal. 93]

 

Komentar saya : Bagaimana mereka (para imam) membenci sikap semacam itu, padahal mereka sendiri menyuruh para pengikutnya untuk berbuat begitu, seperti yang telah disebut keterangannya di atas. Mereka mewajibkan para pengikutnya untuk meninggalkan pendapat-pendapat mereka, bila bertentangan dengan Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Imam Syafi’i menyuruh para muridnya untuk mengatasnamakan dirinya terhadap setiap Hadits yang shahih, sekalipun beliau tidak meriwayatkannya, atau bahkan pendapatnya bertentangan dengan Hadits itu. Oleh karena itu, Ibnu Daqiq Al-‘Id mengumpulkan berbagai Hadits yang dikategorikan bertentangan dengan pendapat dari salah satu atau seluruh imam yang empat, dalam sebuah buku besar. Beliau mengatakan pada pendahulunya :

 

“Mengatasnamakan para imam mujtahid tentang berbagai masalah yang bertentangan dengan Hadits shahih adalah haram”. Para ahli fiqih yang taqlid kepada mereka wajib mengetahui bahwa tidak boleh mengatasnamakan masalah itu kepada mereka. sehingga berdusta atas nama mereka.

 

[Al-Filani hal. 99]

 

Imam Syafi’i Berpendapat Bahwa

Sunnah Memiliki Tiga Sisi7

 

Kemudian Al-Baihaqi berkata : “Berkata Imam Syafi’i Rahimahullah :’Bahwa Sunnah Rasulullah terdiri dari tiga sisi”.

 

  1. Apa yang diturunkan Allah di dalam nash Al-Kitab maka Rasulullah menetapkan suatu Sunnah yang sama dengan nash yang ada dalam Kitabullah itu.

 

  1. Apa yang diturunkan Allah di dalam Al-Kitab berupa sesuatu yang bersifat umum, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan maksud yang diinginkan dari sesuatu yang bersifat umum dalam Kitabullah itu dan menjelaskan rinciannya serta menjelaskan bagaimana caranya hamba Allah melakukan yang dimaksud

 

  1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan suatu hukum yang mana hukum yang ditetapkan beliau itu tidak ada nashnya dalam Kitabullah.

 

Ada perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin tentang sisi ketiga ini, di antara mereka ada yang berpendapat : Bahwa hal tersebut telah Allah tetapkan bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagian dari apa yang wajib ditaati, yang mana hukum yang ditetapkan beliau itu adalah bagian dari ilmu Allah yang diberikan kepada utusan-Nya itu dari sisi Allah, karena Allah telah meridhainya untuk menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al-Kitab. Pendapat lain mengatakan bahwa beliau tidak menetapkan suatu Sunnah kecuali ketetapan sunnah itu memiliki dasar dalam Kitabullah sebagaimana beliau menetapkan Sunnah tentang bilangan dan cara shalat yang berdasarkan pada adanya kewajiban shalat dalam Al-Qur’an yang bersifat umum, begitu juga dengan apa yang beliau tetapkan dalam Sunnah tentang urusan jual beli serta ketetapanketetapan syari’at lainnya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.

 

“Artinya : Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu”. (An-Nisa : 29)

 

Dan Allah berfirman.

“Artinya : Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Al-Baqarah : 275)

 

7 Disalin dari buku Miftahul Jannah fii Al-Ihtijaj bi As-Sunnah, edisi Indonesia KUNCI SURGA Menjadikan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Hujjah oleh Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi hal. 28-30,

 

Maka setiap sesuatu yang dihalalkan dan diharamkan tak lain adalah dari Allah, yang diterangkan dalam Sunnah Rasul sebagaimana kewajiban shalat dari Allah yang diterangkan dalam sunnah Rasul. Dan juga ada yang berpendapat ; bahwa Sunnah yang ditetapkan Rasulullah itu adalah sesuatu yang telah Allah bisikkan di dalam jiwa utusan-Nya itu.

 

Sampai disinilah pembahasan Imam Syafi’i tentang sisi-sisi Sunnah.

 

Pandangan Imam Al-Baihaqi Tentang Berhujjah Dengan As-

Sunnah Dan Bantahan Terhadap Mereka Yang Berhujjah Dengan

Al-Qur’an Saja8

 

Berkata Al-Baihaqi setelah membahas masalah ini : Seandainya tidak ada ketetapan berhujjah dengan As-Sunnah, tentulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya, setelah mengajarkan perkara agama kepada mereka yang menyaksikannya, tidak akan mengatakan.

 

“Artinya : Ketahuilah hendaknya yang hadir di antara kalian untuk menyampaikan kepada yang tidak hadir, berapa banyak orang yang menerima berita lebih paham dari pada orang yang mendengar”.

 

Kemudian Al-Baihaqi menyebutkan hadits yang berbunyi.

 

“Artinya : Semoga Allah membahagiakan seseorang yang mendengarkan sebuah hadits dari kami, kemudian ia menyampaikannya (kepada yang lain) sebagaimana yang ia dengar, dan berapa banyak orang-orang yang menerima kabar lebih paham dari pada orang yang mendengar”.

 

Hadits ini adalah hadits mutawatir sebagaimana yang akan saya terangkan, insya Allah.

 

Berkata Imam Syafi’i : “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan ummatnya untuk memperhatikan sabdanya, menghafalkan dan menyampaikannya, hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak akan memerintahkan untuk menyampaikan sabdanya kecuali bahwa sabda beliau itu sendiri berkedudukan sebagai hujjah bagi yang telah sampai kepadanya sabda beliau itu, karena itu, apa yang dinyatakan dari beliau halal maka boleh dilakukan, dan yang haram harus ditinggalkan yang berupa hukuman (sanksi) maka harus di tegakkan, yang berhubungan dengan harta antara diambil atau diberi, dan yang berupa nasehat adalah untuk kebaikan untuk duniawi dan ukhrawi”.

 

Kemudian Al-Baihaqi menyebutkan hadits dari Abu Rafi’, ia berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

“Artinya : Sungguh akan aku dapatkan seseorang diantara kalian yang tengah bersandar di atas dipannya kemudian datang kepadanya suatu perkara dariku yang aku perintahkan kepadanya atau aku larang baginya, lalu ia berkata : “Saya tidak tahu, apa yang kami temukan di dalam Kitabullah maka kami mengikutinya”. (Hadits Riwayat Abu Daud dan Al-Hakim).

 

Dan dari hadits Al-Miqdam bin Ma’di Karib, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan beberapa hal pada hari (peperangan) Khaibar, antara lain : (memakan) daging keledai dan lainlainnya, kemudian beliau bersabda.

 

“Artinya : Hampir seorang laki-laki duduk di atas dipannya tatkala disampaikan ucapanku (haditsku), lalu ia berkata : ‘Antara aku dan kalian terdapat Kitabullah, apa yang kami dapati didalamnya (Al-Qur’an) halal maka kami akan menghalalkannya dan apa yang kami dapati didalamnya haram maka kami akan mengharamkannya’. Ketahuilah bahwa apa yang diharamkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sama dengan apa yang

diharamkan Allah”.

 

 

8 Disalin dari buku Miftahul Jannah fii Al-Ihtijaj bi As-Sunnah edisi Indonesia KUNCI SURGA Menjadikan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Hujjah, oleh Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi, hal. 11-17

 

Al-Baihaqi mengatakan : ” Ini adalah berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang akan terjadi pada masa setelah beliau berupa penolakan ahli bid’ah (mubtadi’) terhadap haditsnya. Ternyata keautentikan berita ini terbukti setelah beliau tiada”.

 

Kemudian Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Syubaib bin Abi Fadalah Al-Makki bahwa Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘anhu menyebutkan tentang syafaat, lalu seorang laki-laki di antara kaumnya berkata kepadanya : “Wahai Abu Najid, sesungguhnya engkau menyebutkan kepada kami beberapa hadits yang mana hadits-hadits itu tidak memiliki dasar di dalam Al-Qur’an”. Maka Imran marah dan ia berkata kepada orang itu : “Apakah engkau telah membaca Al-Qur’an ?”. Laki-laki itu menjawab : “Ya”, Imran berkata : “Apakah di dalam Al-Qur’an engkau dapatkan (dasar) bahwa shalat Isya adalah empat raka’at, apakah engkau mendapatkan di dalamnya bahwa shalat Maghrib tiga raka’at, shalat Shubuh dua raka’at, shalat Zhuhur empat raka’at dan shalat Ashar empat raka’at ?” Laki-laki itu menjawab : “Tidak”, Imran berkata : “Lalu dari siapa engkau mengambil (dalil) itu, bukankah kalian mengambilnya dari kami dan kami mengambilnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?.! Apakah kamu dapatkan di dalamnya (Al-Qur’an) bahwa (zakat) setiap empat puluh ekor domba adalah satu domba, dan (zakat) setiap sekian onta adalah sekian ekor, dan (zakat) sekian dirham adalah sekian ?” Laki-laki itu menjawab : “Tidak”, Imran berkata lagi : “Lalu dari siapa engkau mengambil dalil itu, bukankah kalian mengambilnya dari kami dan kami mengambilnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?!. Imran berkata lagi : ” Di dalam Al-Qur’an engkau mendapatkan ayat yang berbunyi.

 

“Artinya : Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu

(Baitullah)”. (Al-Hajj : 29).

 

Apakah di dalamnya engkau mendapatkan keterangan bahwa hendaknya kalian melakukan thawaf tujuh kali lalu melaksanakan shalat dua raka’at di belakang maqam Ibrahim ?! Apakah di dalamnya (Al-Qur’an) engkau menemukan keterangan tentang tidak bolehnya jalab, junub dan nikah syighar dalam Islam ?! Tidaklah engkau mendengar bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di dalam kitab-Nya.

 

“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang

dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Al-Hasyr : 7)

 

Imran berkata lagi : “Sesungguhnya kami telah mengambil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak hal yang kalian tidak mengetahui tentang semua itu”.

 

Kemudian Al-Baihaqi berkata : “Hadits yang menyatakan bahwa suatu hadits harus dicocokkan terhadap Al-Qur’an adalah bathil dan tidak benar bahkan batal dengan sendirinya karena di dalam Al-Qur’an tidak ada dalil yang menunjukkan suatu hadits harus dihadapkan pada Al-Qur’an”.

 

Sampai disini pembahasan Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya yang berjudul Al-Madkhal Ash-Shagir, suatu kitab yang mengantar pada pembahasan tentang bukti-bukti kenabian. Ia juga telah menyebutkan masalah ini dalam kitab yang berjudul Al-Madkhal Al-Kabir, yaitu suatu kitab yang mengantar pada pembahasan tentang Sunnah-Sunnah Rasul, dalam kitab kedua ini Imam Al-Baihaqi menyebutkan hal ini lebih gamblang dari pada kitab yang pertama, di antaranya menyebutkan tentang bab mengenal Sunnah-Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kewajiban mengikuti Sunnah-Sunnah itu dengan menyebutkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

“Artinya : Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah”. (Ali-Imran : 164).

 

Berkata Imam Syafi’i : “Aku mendengar dari para Ahli Ilmu Al-Qur’an bahwa maksud dari kata Al-Hikmah dalam ayat ini adalah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pengertian Bid’ah

PENGERTIAN BID’AH MACAM-MACAM BID’AH DAN HUKUM-HUKUMNYA

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

PENGERTIAN BID’AH

Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sebelumnya Allah berfirman.

Badiiu’ as-samaawaati wal ardli
“Artinya : Allah pencipta langit dan bumi” [Al-Baqarah : 117]

Artinya adalah Allah yang mengadakannya tanpa ada contoh sebelumnya.

Juga firman Allah.

Qul maa kuntu bid’an min ar-rusuli
“Artinya : Katakanlah : ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul”. [Al-Ahqaf : 9].

Maksudnya adalah : Aku bukanlah orang yang pertama kali datang dengan risalah ini dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambanya, bahkan telah banyak sebelumku dari para rasul yang telah mendahuluiku.

Dan dikatakan juga : “Fulan mengada-adakan bid’ah”, maksudnya : memulai satu cara yang belum ada sebelumnya.

Dan perbuatan bid’ah itu ada dua bagian :

[1] Perbuatan bid’ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalamnya penyingkapan-penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-macamnya). Ini adalah mubah (diperbolehkan) ; karena asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) adalah mubah.

[2] Perbuatan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram, karena yang ada dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya di tolak (tidak diterima)”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan : “Artinya : Barangsiapa yang berbuat suatu amalan yang bukan didasarkan urusan kami, maka perbuatannya di tolak”.

[selengkapnya]

Apa itu Wahabi?

Wahabi (Bahasa Arab: Al-Wahhābīyya‎ الوهابية) atau Wahhabisme merupakan satu fahaman atau aliran dominan yang diamalkan oleh ulama-ulama Haramain (Makkah dan Madinah) yang diasaskan oleh Muhamad Abdul Wahab. Fahaman ini dikukuhkan lagi oleh keluarga diraja Bani Saud yang kini memerintah negara Arab Saudi. Dinasti al-Saud telah memerintah Arab Saudi sejak tahun 1924. Beliau dilantik Menteri Penerangan Arab Saudi. Wahabi bukanlah suatu mazhab akidah ataupun mazhab fikah.

Fahaman ini disebut juga sebagai Wahabi atau Wahabisme. Istilah ini muncul berdasarkan nama bapa pengasasnya. Pihak British/Yahudi yang mencetuskan gelaran ini kerana melihat mereka ini sebagai ancaman terhadap penjajahan mereka. [perlu rujukan] Mereka menggelar-gelarkan orang kerana hendak memecah belahkan orang Islam. Golongan awal tidak pernah mengeluarkan perkataan Wahabi atau Wahabisme.[perlu rujukan] Golongan terkemudian lebih suka menyebut diri mereka sebagai Salafi, Salafiah, Muhawidun yang bermaksud “satu Tuhan” dan mereka menurut pemikiran Imam Hanbali (al Hanbaliah, al Hanabilah) dalam masalah fikah, yang merupakan salah satu mazhab dalam Ahli Sunah Waljamaah. Dalam hukum akidah pula, mereka berpegang kepada tafsiran Ibn Taymiyyah. Faham Wahabi dianggap sebagai penerusan faham Ibn Taymiyyah.

Aliran Wahabi ini sangat dominan di Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Somalia, Algeria, Palestin dan Mauritania.

Informasi lain mengenai Wahabi:

http://www.scribd.com/doc/4202559/Apa-Itu-Wahabi

http://muslim.or.id/manhaj-salaf/apa-itu-wahabi-1.html